“Hari ini saya ulang tahun yang ke-7. Saya hari ini
dikado buku harian. Azizah sudah senang dikado ini. Mengenai ulang tahun saya,
sudah begitu dikado, rasanya senang sekali. Apalagi kalo di kado banyak, tambah
enak, aku makin senang sekali. … Baiklah
kita berjumpa besok lagi ya.. selamat ulang tahun..” Begitulah coretan pertama
saya, pertama kali saya berusaha mengungkapkan kesan-kesan yang saya alami
dalam sebuah buku kecil yang bergambar teletubbies
berwarna kuning. Geli rasanya jika harus membuka dan membacanya kembali.
Terlebih melihat tulisan saya yang ketika itu masih belum beraturan. Bahkan
pola bahasanya pun masih awut-awuttan. Tapi itulah saya saat itu. Dengan usia
yang masih tujuh tahun, ya sekitar kelas tiga Sekolah Dasar (SD), setidaknya
saya sudah berani menorehkan kenangan untuk saya kenang dikemudian hari.
Keberanian menulis saya saat itu terus berlanjut
selama saya berada di SD, walaupun tidak
setiap hari. Entah mengapa, semenjak saya menerima kado ulang tahun berupa buku
harian itu, saya mulai senang dan menikmati waktu-waktu saya ‘ngobrol’ dengan
pena dan kertas. Menuliskan apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa
yang saya impikan. Walaupun ia benda mati, tapi ia hidup. Hidup dalam imajinasi
saya untuk sabar menjadi teman berbagi Berbagi apapun. Terlebih berbagi hal-hal
yang tidak bisa saya bagi dengan sesama makhluk hidup yang sesungguhnya.
Manusia.
Saya harus menerima kenyataan bahwa saya saat itu
adalah bukan orang yang berkepribadian ekstrovert,
open-minded, atau apalah bahasa yang
tepat untuk mengungkapkan tentang bagaimana kurang terbukanya saya dan
bagaimana tertutupnya saya saat itu. Saya bukan seperti kebanyakan teman-teman
sebaya saya saat itu yang bisa bebas bercerita dengan teman sebayanya, atau
dengan saudaranya. Iya, saya saat itu adalah pribadi yang cukup introvert. Alhasil, buku harian mungil
saya adalah teman curhat saya. Saya merasa ia adalah yang paling bisa menjaga
rahasia hati saya. Ia adalah yang paling pandai dalam mengerti saya. Dan
semenjak saat itulah saya mulai akrab dengan aktivitas menulis.
Menulis seperti cara lain saya untuk berkomunikasi.
Tapi saat-saat menulis yang seperti itu sempat terlupakan saat saya mulai
memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu saat menginjak Sekolah
Menengah Pertama (SMP). Kegiatan sekolah saat SMP benar-benar tidak memberi
saya waktu untuk berelaksasi dan berdiskusi dengan diary saya. Benar-benar
terlupakan karena saya terlalu asyik dengan dunia baru saya. Dunia yang
memberikan banyak pengetahuan dan pengalaman baru yang berhasil membuat saya
tidak begitu tertarik dengan diary mungil itu. Aktivitas menulis yang
menyenangkan, berubah menjadi aktivitas menulis yang menegangkan tapi
menantang. Iya, menulis hal-hal yang berkaitan dengan pelajaran sekolah.
Seperti membuat resume, dan karya
tulis pasca study tour. Tantangan
tersebut terus berjalan ketika memasuki Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Lebih
dari itu, dalam masa-masa tersebut, saya mengenal apa itu makalah. Di mana saya
harus memperluas pemahaman saya akan beberapa hal agar bisa memberikan hasil
terbaik dalam makalah yang saya buat. Dan hal tersebut terus berlanjut ketika
saya berada di bangku kuliah. Iya, ketika saya sudah bukan siswa, malainkan telah
bertransformasi menjadi mahasiswa (mahasiswi).
Saya rasa, masa ini, saat kuliah ini, tantangan
tersebut semakin menjadi-jadi saja. Saya merasa dituntut untuk selalu meberikan
yang terbaik dalam setiap tugas yang diberikan oleh dosen, apapun itu
bentuknya, baik itu berbentuk makalah, maupun artikel. Walaupun masih dalam proses belajar, tapi saya
rasa itulah saatnya. Di mana saya bisa mengeksplorasi pola bahasa saya. Dalam
beberapa point, saya selalu tertarik
untuk menggunakan bahasa saya sendiri. Dan menurut saya, itulah media belajar
saya dalam menuangkan apa yang ada dipikiran saya dan membuat saya merasa
senang. Dan pada saat yang sama, di masa kuliah ini, saya mulai mengingat akan
tulisan saya yang santai, yang berisikan
ungkapan kesan-kesan keseharian saya. ya, semacam diary sewaktu SD dulu, tapi
tidak dalam sebuah buku diary. Melainkan dalam tulisan-tulisan sederhana di
sebuah laptop berwarna biru. Walaupun tidak setiap hari, tapi setidaknya bisa
menjadi tempat berkeluh kesah. Sekarang saya tidak setertutup dulu. Sedikit
banyak telah tahu bagaimana cara mengkomunikasikan apa yang saya rasakan dan
ingin saya ungkapkan, baik itu terhadap orang tua, saudara, bahkan teman
terdekat. Tapi tentunya masih dalam batasan persoalan yang sudah saya sesuaikan
dengan porsinya.
Tidak hanya dari tugas kuliah, tantangan untuk terus
produktif dalam menulis, terus hadir ketika ada media sosial berupa blog. Disanalah
saya merasa ada ruang publikasi untuk menempel tulisan saya yang masih dalam
proses belajar ini. Karena, jujur saja, terkadang ada rasa kurang percaya diri
ketika tulisan saya terpampang nyata di sebuah media cetak. Apapun itu,, rasanya
masih malu saja. Tapi saya percaya, apapun itu bentuk media publikasinya, yang
terpenting adalah tentang proses belajarnya. Menurut saya, menulis bukan
berbicara soal ada atau tidaknya sebuah bakat yang melekat pada diri seseorang,
namun menulis adalah berbicara mengenai kemauan, kesungguhan untuk mengekspresikan
apa yang ada di pikiran kita terhadap
segala hal, yang akan mengantarkan kita pada proses belajar, belajar, dan
belajar. Terakhir, ada sebuah kata-kata bijak yang saya temukan di internet dan
menjadi motivasi bagi saya sekaligus menutup cerita saya hari ini, “Anda tak selamanya bisa berbicara, tak selamanya
bisa bergerak membantu orang. Tapi tulisan yang Anda tulis akan selamanya mampu
dimanfaatkan orang. “
Semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar