Jumat, 04 April 2014

Dia Temanku Berbagi


“Hari ini saya ulang tahun yang ke-7. Saya hari ini dikado buku harian. Azizah sudah senang dikado ini. Mengenai ulang tahun saya, sudah begitu dikado, rasanya senang sekali. Apalagi kalo di kado banyak, tambah enak, aku makin senang sekali. …  Baiklah kita berjumpa besok lagi ya.. selamat ulang tahun..” Begitulah coretan pertama saya, pertama kali saya berusaha mengungkapkan kesan-kesan yang saya alami dalam sebuah buku kecil yang bergambar teletubbies berwarna kuning. Geli rasanya jika harus membuka dan membacanya kembali. Terlebih melihat tulisan saya yang ketika itu masih belum beraturan. Bahkan pola bahasanya pun masih awut-awuttan. Tapi itulah saya saat itu. Dengan usia yang masih tujuh tahun, ya sekitar kelas tiga Sekolah Dasar (SD), setidaknya saya sudah berani menorehkan kenangan untuk saya kenang dikemudian hari.
Keberanian menulis saya saat itu terus berlanjut selama saya berada di SD, walaupun  tidak setiap hari. Entah mengapa, semenjak saya menerima kado ulang tahun berupa buku harian itu, saya mulai senang dan menikmati waktu-waktu saya ‘ngobrol’ dengan pena dan kertas. Menuliskan apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang saya impikan. Walaupun ia benda mati, tapi ia hidup. Hidup dalam imajinasi saya untuk sabar menjadi teman berbagi Berbagi apapun. Terlebih berbagi hal-hal yang tidak bisa saya bagi dengan sesama makhluk hidup yang sesungguhnya. Manusia.
Saya harus menerima kenyataan bahwa saya saat itu adalah bukan orang yang berkepribadian ekstrovert, open-minded, atau apalah bahasa yang tepat untuk mengungkapkan tentang bagaimana kurang terbukanya saya dan bagaimana tertutupnya saya saat itu. Saya bukan seperti kebanyakan teman-teman sebaya saya saat itu yang bisa bebas bercerita dengan teman sebayanya, atau dengan saudaranya. Iya, saya saat itu adalah pribadi yang cukup introvert. Alhasil, buku harian mungil saya adalah teman curhat saya. Saya merasa ia adalah yang paling bisa menjaga rahasia hati saya. Ia adalah yang paling pandai dalam mengerti saya. Dan semenjak saat itulah saya mulai akrab dengan aktivitas menulis.
Menulis seperti cara lain saya untuk berkomunikasi. Tapi saat-saat menulis yang seperti itu sempat terlupakan saat saya mulai memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, yaitu saat menginjak Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kegiatan sekolah saat SMP benar-benar tidak memberi saya waktu untuk berelaksasi dan berdiskusi dengan diary saya. Benar-benar terlupakan karena saya terlalu asyik dengan dunia baru saya. Dunia yang memberikan banyak pengetahuan dan pengalaman baru yang berhasil membuat saya tidak begitu tertarik dengan diary mungil itu. Aktivitas menulis yang menyenangkan, berubah menjadi aktivitas menulis yang menegangkan tapi menantang. Iya, menulis hal-hal yang berkaitan dengan pelajaran sekolah. Seperti membuat resume, dan karya tulis pasca study tour. Tantangan tersebut terus berjalan ketika memasuki Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Lebih dari itu, dalam masa-masa tersebut, saya mengenal apa itu makalah. Di mana saya harus memperluas pemahaman saya akan beberapa hal agar bisa memberikan hasil terbaik dalam makalah yang saya buat. Dan hal tersebut terus berlanjut ketika saya berada di bangku kuliah. Iya, ketika saya sudah bukan siswa, malainkan telah bertransformasi menjadi mahasiswa (mahasiswi).
Saya rasa, masa ini, saat kuliah ini, tantangan tersebut semakin menjadi-jadi saja. Saya merasa dituntut untuk selalu meberikan yang terbaik dalam setiap tugas yang diberikan oleh dosen, apapun itu bentuknya, baik itu berbentuk makalah, maupun artikel.  Walaupun masih dalam proses belajar, tapi saya rasa itulah saatnya. Di mana saya bisa mengeksplorasi pola bahasa saya. Dalam beberapa point, saya selalu tertarik untuk menggunakan bahasa saya sendiri. Dan menurut saya, itulah media belajar saya dalam menuangkan apa yang ada dipikiran saya dan membuat saya merasa senang. Dan pada saat yang sama, di masa kuliah ini, saya mulai mengingat akan tulisan saya yang santai,  yang berisikan ungkapan kesan-kesan keseharian saya. ya, semacam diary sewaktu SD dulu, tapi tidak dalam sebuah buku diary. Melainkan dalam tulisan-tulisan sederhana di sebuah laptop berwarna biru. Walaupun tidak setiap hari, tapi setidaknya bisa menjadi tempat berkeluh kesah. Sekarang saya tidak setertutup dulu. Sedikit banyak telah tahu bagaimana cara mengkomunikasikan apa yang saya rasakan dan ingin saya ungkapkan, baik itu terhadap orang tua, saudara, bahkan teman terdekat. Tapi tentunya masih dalam batasan persoalan yang sudah saya sesuaikan dengan porsinya.
Tidak hanya dari tugas kuliah, tantangan untuk terus produktif dalam menulis, terus hadir ketika ada media sosial berupa blog. Disanalah saya merasa ada ruang publikasi untuk menempel tulisan saya yang masih dalam proses belajar ini. Karena, jujur saja, terkadang ada rasa kurang percaya diri ketika tulisan saya terpampang nyata di sebuah media cetak. Apapun itu,, rasanya masih malu saja. Tapi saya percaya, apapun itu bentuk media publikasinya, yang terpenting adalah tentang proses belajarnya. Menurut saya, menulis bukan berbicara soal ada atau tidaknya sebuah bakat yang melekat pada diri seseorang, namun menulis adalah berbicara mengenai kemauan, kesungguhan untuk mengekspresikan apa yang ada di  pikiran kita terhadap segala hal, yang akan mengantarkan kita pada proses belajar, belajar, dan belajar. Terakhir, ada sebuah kata-kata bijak yang saya temukan di internet dan menjadi motivasi bagi saya sekaligus menutup cerita saya hari ini, “Anda tak selamanya bisa berbicara, tak selamanya bisa bergerak membantu orang. Tapi tulisan yang Anda tulis akan selamanya mampu dimanfaatkan orang. “
Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar