Sang
Inspirator Dari Venetie Van Java
Kulitnya yang putih, jalannya yang
meraba-raba dengan kondisi mata yang nyaris tertutup rapat, adalah beberapa
ciri dari seorang gadis penyandang tunanetra bernama Novi Titi Purwani atau
akrab disapa Novi. Penyandang cacat pada penglihatan dengan tinggi sekitar 160
cm itu adalah seorang mahasiswi jurusan Bimbingan Konseling Islam (BKI) di
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta yang berasal dari Venetie Van Java atau kita kenal dengan
kota Semarang.
Kegigihannya untuk merantau ke kota
Solo, semakin menunjukkan bahwa anak pertama dari tiga bersaudara ini bukanlah
anak yang merasa putus asa dengan takdir hidupnya. Tuhan yang menakdirkan
dirinya untuk tidak dapat melihat sejak lahir, tidak lantas membuatnya menjadi
pribadi yang tidak bersyukur. Ia sangat menyadari betul bahwa keadaannya saat
ini adalah atas takdir yang Maha Kuasa. Bahkan ia pernah menerima pertanyaan
dari salah seorang temannya yang mengatakan ”Kenapa ngga operasi mbak? Enak lho bisa melihat dunia kayak aku..
dunia indah hlo mbak…” Ia hanya mampu tersenyum kecil yang dalam
benaknya sesungguhnya juga menginginkan hal itu. Menginginkan untuk menyaksikan
dengan mata kepalanya sendiri tentang bagaimana sebenarnya dunia yang orang
bilang indah ini. Namun apa daya, hingga detik ini belum ada yang memberinya
bantuan dana untuk melakukan operasi. Mengingat untuk melakukan operasi mata
memerlukan biaya yang tak sedikit.
Maka dalam menanggapi
pertanyaan seperti itu, ia mengatakan bahwa sejauh ini dirinya mensyukuri apa
yang telah Tuhan berikan untuknya. Dengan keyakinannya, ia mengatakan bahwa
keterbatasan itu bukanlah penghalang aktivitasnya karena ia mampu bangkit. “Karena orang cacat itu bukan untuk
dikasihani, tapi untuk diperhatikan..” ungkapnya dengan senyum kecil yang
hampir tak pernah lupa untuk ia sunggingkan.
Kekuatan dan
keyakinan gadis berusia 24 tahun itu patut untuk menjadi pelajaran, tidak hanya
bagi sesama penyandang cacat namun juga untuk semua. Semua orang yang mungkin pernah
merasakan hal yang tidak mengenakkan dalam hidupnya. Bahwa bersyukur adalah
yang utama. Sang Inspirator. Rasanya tak berlebihan jika sebutan itu disematkan
kepada penyandang disabilitas bernama Novi ini.
Bahkan keberhasilannya
menyabet Juara I (Pertama) dalam mengerjakan test Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Tingkat Provinsi yang diadakan di Boyolali pada tahun 2004 silam menjadi sebuah
prestasi yang semakin menunjukkan bahwa ia adalah orang yang tetap mensyukuri
kehidupannya ini melalui karya dan prestasi. Tak hanya itu,
prestasinya dalam hal pengetahuan umum, ia wujudkan pula di tahun yang sama
dengan meraih Juara Harapan I (Pertama)
Tingkat Provinsi dalam mengerjakan test Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) namun
diadakan di kota berbeda, yaitu Bali.
Selain itu gadis yang senang
mendengarkan dan menyanyikan tembang-tembang karawitan ini masih menorehkan
sejumlah prestasi lain yaitu dalam hal bernyanyi. Diawali saat ia duduk di
Sekolah Dasar (SD) ia telah meraih Juara III (Tiga) Tingkat Provinsi dalam menyanyikan
lagu-lagu perjuangan. Prestasi serupa kembali ditunjukkannya saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), dengan
juga meraih Juara III (Tiga) Tingkat Provinsi dalam menyanyikan
lagu-lagu perjuangan, bahkan ia pun pernah meraih Juara III (Tiga) Tingkat
Kecamatan dalam menyayikan lagu pop dengan bersaingkan anak normal. Serta masih
banyak lagi prestasi yang telah ia dapatkan dalam hal bernyanyi.
Wujud syukurnya
tidak hanya berhenti di situ. Keinginannya yang kuat untuk memperoleh
pendidikan setinggi-tingginya hingga cita-citanya untuk menjadi seorang guru
konseling di SLB tercapai. di buktikannya melalui proses belajarnya di kampus
IAIN Surakarta tersebut. Hari-harinya dilakukan layaknya mahasiswa pada
umumnya. Beruntung ia masih mempunyai teman-teman yang tidak keberatan untuk
membantunya dalam proses pembelajaran di kelas. Baik saat dosen memberikan
keterangan-keterangan penting, saat ada tugas kuliah dan terlebih ketika ujian.
Saat ujian tiba, ia pun tetap mengikuti ujian dengan dibantu oleh temannya
membacakan soal yang ada. Demikian juga terhadap persiapannya. Baginya belajar
sebelum ujian juga menjadi hal yang penting, hingga rasa syukur tetap mengalir
ketika masih ada temannya yang bersedia membantunya belajar untuk menghadapi
soal-soal ujian.
Bahkan Supandi,
selaku wali studinya mengatakan bahwa Novi memiliki perhatian yang baik saat di
kelas, dan dengan kondisinya yang demikian dia termasuk murid yang memiliki
pemahaman yang baik dan juga semangat yang tinggi sehingga mengantarkan dirinya
pada pencapaian berupa nilai yang baik. Semangat belajarnya juga terlihat
dengan kehadirannya yang selalu tepat waktu dalam perkuliahan.
Padahal ketika berangkat
dan pulang kuliah pun juga sesuai jadwal yang ada. Ketika berangkat kuliah,
jika tidak ada yang dapat mengantar, maka ia tetap berusaha berjalan menyusuri
jalanan menuju kampus dengan tongkatnya. Namun jika ada yang berbaik hati untuk
mengantar dengan sebuah kendaraan, maka bebannya sedikit terkurangi dengan tiba
di kampus lebih cepat. Begitu juga jika
sudah waktunya untuk pulang.
Selama berada
di Solo, Novi tinggal di sebuah rumah kost bernama Orchyd yang berjarak hanya
sekitar satu kilometer dari kampusnya. Sesampainya di kost dengan suasana rumah
seperti lorong, di dalam sebuah kamar dengan ciri tembok berwarna hijau
bernomor delapan yang terletak diantara barisan kamar yang berderet di sisi
kanan dan kiri itu, ia pun juga tetap melakukan aktivitas yang tak jauh berbeda
dengan teman-teman kostnya yang semuanya normal. Tinggal bersama anak-anak
normal tidak membuatnya menjadi pribadi yang banyak berharap belas kasih.
Tak jarang, ia
membeli makan sendiri untuk mengisi perutnya yang lapar. Hal itu dilakukan jika
tidak ada yang dapat membantunya. Seusai makan, ia pun juga mencuci peralatan
makannya sendiri. Bahkan ia juga sering mencuci baju sendiri di kamar mandi
yang berada di dalam kamarnya itu, hingga menjemurnya sendiri. Tertabrak tembok
atau tertabrak benda-benda yang ada di hadapannya menjadi hal yang sangat wajar
ketika awal-awal ia menjadi anak kost di tempat itu. Namun, dengan berjalannya
waktu, melalui proses menghafal dan mengandalkan serta memaksimalkan
fungsi-fungsi indranya yang lain, ia bisa menjalani semua dengan ringan.
Novi gadis
tunanetra yang sehari-harinya berpenampilan sederhana itu juga bukannya tidak
pulang ke kampung halamannya sama sekali. Bahkan sesekali ia tetap merasa harus
pulang ke kota yang dilalui banyak sungai di tengah kota seperti Venesia di
Italia hingga Belanda menyebutnya Venetie
Van Java itu dengan mengendarai bus. Langkah kakinya yang mandiri
membuatnya berani melakukannya sendiri. Dengan keberaniannya bertanya pada
orang yang bisa ia tanya tentang arah bus menuju Semarang, ia mampu membuktikan
bahwa ia adalah gadis pemberani yang tangguh.
Walaupun
saat-saat awal memulainya, rasa takut dan rasa kurang percaya diri pernah
mengiringi gadis yang menyukai makanan manis ini, namun dengan berjalannya
waktu serta keyakinannya yang kuat pada Tuhan, ia mampu menepis perasaannya itu
dan kekhawatiran orang-orang terdekatnya mengenai adanya kemungkinan
orang-orang jahat yang mungkin saja akan mengganggu perjalanannya. Dan hal itu
tidak membuatnya mengurungkan niat untuk tetap bolak-balik Semarang-Solo,
walaupun tidak dengan waktu yang berkala.
“Jangan jadikan keterbatasan sebagai penghalang, kita sebenarnya
mampu, hanya saja kita memiliki cara berbeda dengan orang normal” demikian pesannya untuk teman-teman dengan kondisi serupa
dengannya. Selain itu ia juga
menyampaikan saran lainnya, bahwa jika menerima ejekan, maka terima saja,dan
jadikan itu sebagai pembangkit dan penyemangat bahwa AKU BISA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar