Rabu, 28 Mei 2014

Sang Inspirator Dari Venetie Van Java


Sang Inspirator Dari Venetie Van Java
Kulitnya yang putih, jalannya yang meraba-raba dengan kondisi mata yang nyaris tertutup rapat, adalah beberapa ciri dari seorang gadis penyandang tunanetra bernama Novi Titi Purwani atau akrab disapa Novi. Penyandang cacat pada penglihatan dengan tinggi sekitar 160 cm itu adalah seorang mahasiswi jurusan Bimbingan Konseling Islam (BKI) di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta yang berasal dari Venetie Van Java atau kita kenal dengan kota Semarang.
Kegigihannya untuk merantau ke kota Solo, semakin menunjukkan bahwa anak pertama dari tiga bersaudara ini bukanlah anak yang merasa putus asa dengan takdir hidupnya. Tuhan yang menakdirkan dirinya untuk tidak dapat melihat sejak lahir, tidak lantas membuatnya menjadi pribadi yang tidak bersyukur. Ia sangat menyadari betul bahwa keadaannya saat ini adalah atas takdir yang Maha Kuasa. Bahkan ia pernah menerima pertanyaan dari salah seorang temannya yang mengatakan ”Kenapa ngga operasi mbak? Enak lho bisa melihat dunia kayak aku.. dunia indah hlo mbak…”  Ia hanya mampu tersenyum kecil yang dalam benaknya sesungguhnya juga menginginkan hal itu. Menginginkan untuk menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri tentang bagaimana sebenarnya dunia yang orang bilang indah ini. Namun apa daya, hingga detik ini belum ada yang memberinya bantuan dana untuk melakukan operasi. Mengingat untuk melakukan operasi mata memerlukan biaya yang tak sedikit.
Maka dalam menanggapi pertanyaan seperti itu, ia mengatakan bahwa sejauh ini dirinya mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan untuknya. Dengan keyakinannya, ia mengatakan bahwa keterbatasan itu bukanlah penghalang aktivitasnya karena ia mampu bangkit. “Karena orang cacat itu bukan untuk dikasihani, tapi untuk diperhatikan..” ungkapnya dengan senyum kecil yang hampir tak pernah lupa untuk ia sunggingkan.
Kekuatan dan keyakinan gadis berusia 24 tahun itu patut untuk menjadi pelajaran, tidak hanya bagi sesama penyandang cacat namun juga untuk semua. Semua orang yang mungkin pernah merasakan hal yang tidak mengenakkan dalam hidupnya. Bahwa bersyukur adalah yang utama. Sang Inspirator. Rasanya tak berlebihan jika sebutan itu disematkan kepada penyandang disabilitas bernama Novi ini.
Bahkan keberhasilannya menyabet Juara I (Pertama) dalam mengerjakan test Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Tingkat Provinsi yang diadakan di Boyolali pada tahun 2004 silam menjadi sebuah prestasi yang semakin menunjukkan bahwa ia adalah orang yang tetap mensyukuri kehidupannya ini melalui karya dan prestasi. Tak hanya itu, prestasinya dalam hal pengetahuan umum, ia wujudkan pula di tahun yang sama dengan  meraih Juara Harapan I (Pertama) Tingkat Provinsi dalam mengerjakan test Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) namun diadakan di kota berbeda, yaitu Bali.
 Selain itu gadis yang senang mendengarkan dan menyanyikan tembang-tembang karawitan ini masih menorehkan sejumlah prestasi lain yaitu dalam hal bernyanyi. Diawali saat ia duduk di Sekolah Dasar (SD) ia telah meraih Juara III (Tiga) Tingkat Provinsi dalam menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Prestasi serupa kembali ditunjukkannya saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), dengan juga meraih Juara III (Tiga) Tingkat Provinsi dalam menyanyikan lagu-lagu perjuangan, bahkan ia pun pernah meraih Juara III (Tiga) Tingkat Kecamatan dalam menyayikan lagu pop dengan bersaingkan anak normal. Serta masih banyak lagi prestasi yang telah ia dapatkan dalam hal bernyanyi.
Wujud syukurnya tidak hanya berhenti di situ. Keinginannya yang kuat untuk memperoleh pendidikan setinggi-tingginya hingga cita-citanya untuk menjadi seorang guru konseling di SLB tercapai. di buktikannya melalui proses belajarnya di kampus IAIN Surakarta tersebut. Hari-harinya dilakukan layaknya mahasiswa pada umumnya. Beruntung ia masih mempunyai teman-teman yang tidak keberatan untuk membantunya dalam proses pembelajaran di kelas. Baik saat dosen memberikan keterangan-keterangan penting, saat ada tugas kuliah dan terlebih ketika ujian. Saat ujian tiba, ia pun tetap mengikuti ujian dengan dibantu oleh temannya membacakan soal yang ada. Demikian juga terhadap persiapannya. Baginya belajar sebelum ujian juga menjadi hal yang penting, hingga rasa syukur tetap mengalir ketika masih ada temannya yang bersedia membantunya belajar untuk menghadapi soal-soal ujian.
Bahkan Supandi, selaku wali studinya mengatakan bahwa Novi memiliki perhatian yang baik saat di kelas, dan dengan kondisinya yang demikian dia termasuk murid yang memiliki pemahaman yang baik dan juga semangat yang tinggi sehingga mengantarkan dirinya pada pencapaian berupa nilai yang baik. Semangat belajarnya juga terlihat dengan kehadirannya yang selalu tepat waktu dalam perkuliahan.
Padahal ketika berangkat dan pulang kuliah pun juga sesuai jadwal yang ada. Ketika berangkat kuliah, jika tidak ada yang dapat mengantar, maka ia tetap berusaha berjalan menyusuri jalanan menuju kampus dengan tongkatnya. Namun jika ada yang berbaik hati untuk mengantar dengan sebuah kendaraan, maka bebannya sedikit terkurangi dengan tiba di kampus lebih cepat.  Begitu juga jika sudah waktunya untuk pulang.
Selama berada di Solo, Novi tinggal di sebuah rumah kost bernama Orchyd yang berjarak hanya sekitar satu kilometer dari kampusnya. Sesampainya di kost dengan suasana rumah seperti lorong, di dalam sebuah kamar dengan ciri tembok berwarna hijau bernomor delapan yang terletak diantara barisan kamar yang berderet di sisi kanan dan kiri itu, ia pun juga tetap melakukan aktivitas yang tak jauh berbeda dengan teman-teman kostnya yang semuanya normal. Tinggal bersama anak-anak normal tidak membuatnya menjadi pribadi yang banyak berharap belas kasih.
Tak jarang, ia membeli makan sendiri untuk mengisi perutnya yang lapar. Hal itu dilakukan jika tidak ada yang dapat membantunya. Seusai makan, ia pun juga mencuci peralatan makannya sendiri. Bahkan ia juga sering mencuci baju sendiri di kamar mandi yang berada di dalam kamarnya itu, hingga menjemurnya sendiri. Tertabrak tembok atau tertabrak benda-benda yang ada di hadapannya menjadi hal yang sangat wajar ketika awal-awal ia menjadi anak kost di tempat itu. Namun, dengan berjalannya waktu, melalui proses menghafal dan mengandalkan serta memaksimalkan fungsi-fungsi indranya yang lain, ia bisa menjalani semua dengan ringan.
Novi gadis tunanetra yang sehari-harinya berpenampilan sederhana itu juga bukannya tidak pulang ke kampung halamannya sama sekali. Bahkan sesekali ia tetap merasa harus pulang ke kota yang dilalui banyak sungai di tengah kota seperti Venesia di Italia hingga Belanda menyebutnya Venetie Van Java itu dengan mengendarai bus. Langkah kakinya yang mandiri membuatnya berani melakukannya sendiri. Dengan keberaniannya bertanya pada orang yang bisa ia tanya tentang arah bus menuju Semarang, ia mampu membuktikan bahwa ia adalah gadis pemberani yang tangguh.
Walaupun saat-saat awal memulainya, rasa takut dan rasa kurang percaya diri pernah mengiringi gadis yang menyukai makanan manis ini, namun dengan berjalannya waktu serta keyakinannya yang kuat pada Tuhan, ia mampu menepis perasaannya itu dan kekhawatiran orang-orang terdekatnya mengenai adanya kemungkinan orang-orang jahat yang mungkin saja akan mengganggu perjalanannya. Dan hal itu tidak membuatnya mengurungkan niat untuk tetap bolak-balik Semarang-Solo, walaupun tidak dengan waktu yang berkala.
“Jangan jadikan keterbatasan sebagai penghalang, kita sebenarnya mampu, hanya saja kita memiliki cara berbeda dengan orang normal” demikian pesannya untuk teman-teman dengan kondisi serupa dengannya.  Selain itu ia juga menyampaikan saran lainnya, bahwa jika menerima ejekan, maka terima saja,dan jadikan itu sebagai pembangkit dan penyemangat bahwa AKU BISA.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar