Ayah..
iya,
Ayah.. begitulah sapaanku terhadap lelaki yang
telah merawatku, mendidikku dan berbagi pengalaman denganku selama hampir
sembilan belas tahun ini.
lelaki yang sudah berada di dunia ini selama lebih dari setengah abad itu adalah sosok yang membuatku memahami kehidupan ini dari berbagai sisi.
lelaki yang sudah berada di dunia ini selama lebih dari setengah abad itu adalah sosok yang membuatku memahami kehidupan ini dari berbagai sisi.
Lelaki itu adalah sosok yang kuat.. Ia benar-benar
tidak hanya sekedar berbicara tentang apa itu “kuat”, namun juga menyatakannya
dalam setiap perilakunya. Ia tidak hanya kuat secara fisik, mentalitasnya pun
menyiratkan hal serupa. Iya, lelaki itu bernama Ayah. Sosok yang kuat itu.
Aku percaya Ayah.
Aku percaya Ayah.
Ia adalah sosok yang tangguh. Ia benar-benar
memiliki idealisme yang kuat. Prinsip yang gagah, Pandangan yang indah. Ia akan
senantiasa berdiri tegak dengan semua apa yang ia yakini, apa yang ia pahami. Ia
sangat pandai dalam berdiskusi, dalam beradu argumentasi. Memberikan pandangan
yang luas namun tetap proporsional walaupun terkadang sedikit emosional adalah
sosok yang aku kenal. Hingga sekarang. Sosok yang masih menyandang sebagai
seorang Ayah. Ayah yang tangguh. Dan sama, aku percaya Ayah.
Sosok itu hidup dengan kepribadian yang keras,
namun tetap terkendali dengan sikapnya yang agamis. Iya. Ia tak hanya berdiri
tegap dengan prinsip hidupnya dalam dimensi eksoterik, namun juga pada dimensi
esoteriknya. Seimbang? Hmm.. tidak selalu, tapi hampir.
Keras tidak selalu terwujud dalam sikap-sikap yang destruktif, melainkan keras dalam menerapkan apa yang telah ia tanamkan pada hati dan pikirannya. Dalam benakku, ia adalah sosok yang benar-benar memiliki konsistensi yang tinggi. Buatku, ia adalah benar-benar Ayah, walaupun tidak seratus persen sempurnya, namun ia tetaplah Ayahku dan aku mempercayainya. Ya, aku percaya Ayah.
Keras tidak selalu terwujud dalam sikap-sikap yang destruktif, melainkan keras dalam menerapkan apa yang telah ia tanamkan pada hati dan pikirannya. Dalam benakku, ia adalah sosok yang benar-benar memiliki konsistensi yang tinggi. Buatku, ia adalah benar-benar Ayah, walaupun tidak seratus persen sempurnya, namun ia tetaplah Ayahku dan aku mempercayainya. Ya, aku percaya Ayah.
Aku percaya, dengan usianya yang semakin tua, ia
masih sanggup memimpin, memimpin kita yang masih mempercayai kinerja
kepemimpinannya. Kepemimpinan dalam keluarga besar ini.
Aku percaya dengan kondisinya yang semakin renta,
ia masih sanggup mengawal perjalanan kita. Perjalanan hidup yang bukannya
semakin mudah namun membuat kita semakin menengadah. Menengadah untuk diberi
mudah. Oleh-Nya. Hidup ini benar-benar menggoda kita dari berbagai sisi. Dan Ayah
tahu betul akan hal itu.
Aku percaya, dengan Ayah yang sudah tidak muda, ia
masih bisa berteriak. Meneriakkan suara-suara yang kecil dan tersembunyi. Dan kita
bisa mendengarnya, suara Ayah sangat keras, sangat lantang. Dan aku bisa
merasakannya sangat bisa bahkan tidak akan pernah lupa.
Ayahku mungkin tidak bisa membawa keluargaku pada
kebahagiaan profan yang kebanyakan orang inginkan, yang kebanyakan orang
dambakan. Namun aku selalu percaya, bahwa Ayah bisa memberikan kita ketenangan,
kenyamanan, dan pandangan, bahwa kebahagiaan itu adalah sebuah pilihan.
Ayahku mungkin tidak bisa membawa keluargaku
berlibur keliling Eropa seperti apa yang pernah aku inginkan, tapi Ayahku bisa
membawaku mengelilingi kehidupan ini dari berbagai sisi.
Dengan kekuatannya, ia mampu membuatku percaya,
bahwa hidup ini keras, maka kita harus jauh lebih keras.
Dengan ketangguhannya, ia masih mampu meyakinkanku
bahwa hidup ini tidak selalu dalam kondisi tenang, maka kita harus berpegang.
Dengan kekerasannya, ia benar-benar membuatku tahu,
bahwa hidup ini adalah bukan sekedar omongan, tapi juga pembuktian.
Dalam sholatku, aku sisipkan untuk kesehatan orang tuaku,
untuk kebahagiaan mereka, ibu bapakku.
Rasa kagumku tak hanya sampai disitu,
Dalam anganku, selalu terselip mimpi indahku,
Dibalik kesehatannya yang selalu aku minta pada-Nya
terdapat keinginan besar untuk menyempurnakan rukun Islamku. Rukun Islam terakhirku. Bersama mereka, ibu
dan bapakku, iya, ibu dan Ayahku,
Semuanya, hanya ada satu kalimat tersisa,
Aku anakmu,
Aku mempercayaimu,
Aku butuh sehatmu,
Aku butuh do’amu,
Aku butuh kehadiranmu,
Untuk satu hal itu,
Aku mempercayaimu,
Ayah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar