Kamis, 29 Mei 2014

Sang Inspirator Dari Venetie Van Java -Another Style-


Sang Inspirator Dari Venentie Van Java
(Another Style)
Tidak ada manusia yang sempurna. Itulah sepenggal kalimat motivasi yang sering kita dengar, untuk menjelaskan bahwa setiap manusia pasti memiliki kekurangan. Itulah takdir Tuhan yang tidak dapat terhindarkan. Dan hal inilah yang sepertinya disadari betul oleh seorang gadis penyandang tunanetra bernama Novi Titi Purwani atau akrab disapa Novi.
Keteguhannya menjalani hidup sebagai seorang mahasiswi di sebuah kampus umum, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta membuatku penasaran. Menjalani hidup dengan keterbatasan yang dimilikinya ditengah-tengah kehidupan manusia yang mayoritas normal memang tidaklah mudah. Aku ingin berbincang-bincang dengannya. Tapi tidak semudah itu, aku harus menemukan waktu yang tepat untuk hal ini. Hingga aku memutuskan untuk mendatangi rumah kost di mana ia tinggal.
Gadis berusia 24 tahun yang berasal dari Venetie Van Java atau kita kenal dengan kota Semarang itu  tinggal di sebuah rumah kost bernama Orchyd yang terletak tidak jauh dari kampusnya.
Selasa, 20 Mei 2014 sekitar pukul 13.30 selepas pulang kuliah, dengan menaiki motor bebekku, aku mendatangi tempat di mana ia tinggal selama merantau di Solo itu. Dengan jarak sekitar satu kilometer dari kampus IAIN di mana aku juga menuntut ilmu di sana, aku melihat pintu gerbang paling luarnya terbuka. Aku sedikit lega, itu artinya aku bisa masuk. Ternyata di dalamnya masih ada pintu gerbang lagi, namun masih tertutup. Segera saja aku memarkirkan motorku. Dan dengan perlahan membukanya, setelah sebelumnya aku memberitahunya melalui telefon, bahwa aku telah tiba.
Aplikasi bernama talk yang memang diperuntukkan bagi penyandang tunanetra yang terdapat di dalam telefon genggamnya, paling tidak membuat dirinya bisa merasakan kecanggihan teknologi yang dapat mempermudah akses komunikasi sesuai keinginan dan kebutuhannya.
Dengan cahaya yang tidak terlalu terang, dan tempat yang berbentuk seperti lorong, aku melihat deretan kamar yang berbaris di sisi kanan dan sisi kiri. Dari dua lantai yang ada, kamar Novi, terdapat di lantai satu, katanya saat aku menelfon tadi. Namun, barisan kamar itu membuatku bingung, di sebelah mana ia tinggal? Kealpaanku untuk bertanya sebelumnya, membuatku malas untuk menelfonnya kembali. Dan aku lebih memilih mendekati sebuah kamar disisi kiri yang kebetulan terbuka. Dan aku pun bertanya pada seorang gadis penghuni kamar yang sedang duduk di atas tempat tidurnya itu. “maaf mbak, mau nanya, kamarnya mbak Novi di mana ya..?”tanyaku “Di hijau nomor 8”, jawabnya.
Dalam hati, aku lebih bingung lagi, apa maksud dari “hijau nomor 8”. Entah perasaan atau intuisi dari mana yang mengarahkanku untuk mendekati satu pintu yang seperti ingin membuka diri. Benar saja, itu kamar Novi. Aku beru menyadari bahwa sebutan warna hijau adalah untuk menyebut sebuah tembok dengan cat warna hijau untuk membedakan antara barisan kamar yang ada di sisi kanan (utara) dan tembok dengan cat warna kuning atau biasa disebut kuning, untuk menunjukkan barisan kamar yang ada di sisi kiri (selatan).
Rupanya dia sedang menyapu sambil membuka pintu kamar yang masih gelap itu dan rasanya aku telah mengagetkannya dengan memanggil namanya. Di awal pertemuan itu, aku sudah di buat kagum dengan kegigihannya menyapu. Menyapu adalah hal yang sepele untuk manusia normal, tapi untuk yang satu ini, aku harus menungkapkan kekagumanku.
Ia pun menghidupkan lampu kamarnya, setelah aku menanyakan mengapa lampunya mati. Dengan ukuran kamar sekitar 3x4 yang dilengkapi kamar mandi dalam itu, aku merasakan suasana yang cukup nyaman. Seperti kamar kost orang pada umumnya, di sana ada satu tempat tidur beralaskan karpet tipis, satu lemari plastik warna-warni dengan empat pintu, ada sebuah meja berukuran sedang, tempat meletakkan barang-barang kecilnya, dan ada sebuah mangkuk yang sepertinya usai digunakan untuk makan.
Dan mataku tertuju pada sesuatu yang juga tak mau kalah bertengger diatas meje segi empat itu. Adalah sebuah piala yang bertuliskan Juara III Tingkat Propinsi dalam lomba menyanyikan lagu perjuangan. Dan hal itu dilakukannya saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) lalu.  Bahkan tak hanya itu, gadis yang mengaku senang bernyanyi dan mendengarkan tembang-tembang karawitan ini sudah banyak menorehkan banyak prestasi baik dalam hal bernyanyi dan prestasi seputar pengetahuan umum.
Diawali saat ia duduk di Sekolah Dasar (SD) ia juga telah meraih Juara III (Tiga) Tingkat Provinsi dalam menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Bahkan ia pernah meraih Juara III (Tiga) Tingkat Kecamatan dalam menyayikan lagu pop dengan bersaingkan anak normal. Serta masih banyak lagi prestasi yang telah ia dapatkan dalam hal bernyanyi.
Selain itu, keberhasilannya menyabet Juara I (Pertama) dalam mengerjakan test Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Tingkat Provinsi yang diadakan di Boyolali pada tahun 2004 silam menjadi sebuah prestasi yang semakin menunjukkan bahwa ia adalah orang yang tetap mensyukuri kehidupannya ini melalui karya dan prestasi. Tak hanya itu, prestasinya dalam hal pengetahuan umum, ia wujudkan pula di tahun yang sama dengan  meraih Juara Harapan I (Pertama) Tingkat Provinsi dalam mengerjakan test Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) namun diadakan di kota berbeda, yaitu Bali.
Dengan kondisi mata yang nyaris tertutup rapat, ia mulai menceritakan pengalaman lainnya berdasarkan pertanyaan yang aku lontarkan. Suasana ini semakin meyakinkanku bahwa inilah pengalaman pertamaku berbincang dengan penyandang tunanetra (Disable) secara langsung. Gadis berkulit putih yang memiliki tiggi badan sekitar 160 cm itu adalah seseorang yang tidak bisa melihat sejak lahir. Bahkan anak pertama dari tiga bersaudara ini pernah mendengar pertanyaan dari salah seorang temannya yang mengatakan.”kenapa ngga operasi mbak? Enak lho bisa melihat dunia kayak aku.. dunia indah hlo mbak…” 
Ia hanya mampu tersenyum kecil yang dalam benaknya sesungguhnya juga menginginkan hal itu. Menginginkan untuk menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri tentang bagaimana sebenarnya dunia yang orang bilang indah ini. Namun apa daya, hingga detik ini belum ada yang memberinya bantuan dana untuk melakukan operasi. Mengingat untuk melakukan operasi mata memerlukan biaya yang tak sedikit.
Maka dalam menanggapi pertanyaan seperti itu, ia mengatakan bahwa sejauh ini dirinya mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan untuknya. Dengan keyakinannya, ia mengatakan bahwa keterbatasan itu bukanlah penghalang aktivitasnya karena ia mampu bangkit. “Karena orang cacat itu bukan untuk dikasihani, tapi untuk diperhatikan..” ungkapnya dengan senyum kecil yang hampir tak pernah lupa untuk ia sunggingkan. Ia memang gadis yang murah senyum.
Sang Inspirator. Rasanya tak berlebihan jika sebutan itu disematkan kepada penyandang disabilitas bernama Novi ini. Kekuatan dan keyakinannya patut untuk menjadi pelajaran tidak hanya bagi sesamanya namun juga untuk semuanya. Semua orang yang mungkin pernah merasakan hal yang tidak mengenakkan dalam hidupnya. Bahwa bersyukur adalah yang utama.
Wujud syukurnya tidak hanya berhenti di situ. Keinginannya yang kuat untuk memperoleh pendidikan setinggi-tingginya hingga cita-citanya untuk menjadi seorang guru konseling di SLB tercapai. di buktikannya melalui proses belajarnya di jurusan Bimbingan Konseling Islam (BKI). Hari-harinya dilakukan layaknya mahasiswa pada umumnya. Beruntung ia masih mempunyai teman-teman yang tidak keberatan untuk membantunya dalam proses pembelajaran di kelas. Baik saat dosen memberikan keterangan-keterangan penting, saat ada tugas dan terlebih ketika ujian. Saat ujian tiba, ia pun tetap mengikuti ujian dengan dibantu oleh temannya membacakan soal yang ada. Demikian juga terhadap persiapannya. Belajar sebelum ujian juga menjadi hal yang penting, hingga rasa syukur tetap mengalir ketika masih ada temannya yang bersedia membantunya belajar untuk menghadapi soal-soal ujian.
Bahkan Supandi, selaku wali studinya mengatakan bahwa Novi memiliki perhatian yang baik saat di kelas, dan dengan kondisinya yang demikian dia termasuk murid yang memiliki pemahaman yang baik dan juga semangat yang tinggi sehingga mengantarkan dirinya pada pencapaian berupa nilai yang baik. Semangat belajarnya juga terlihat dengan kehadirannya yang selalu tepat waktu dalam perkuliahan.
Padahal ketika berangkat dan pulang kuliah pun juga sesuai jadwal yang ada. Ketika berangkat kuliah, jika tidak ada yang dapat mengantar, maka ia tetap berusaha berjalan menyusuri jalanan menuju kampus dengan tongkat khususnya. Tongkat yang berwarna putih dan disertai reflektor warna merah itu memang didesain khusus bagi penyandang tunanetra, agar ketika malam hari, orang lain yang melihat mampu mengenalinya bahwa ia sedang berjalan. Namun jika ada yang berbaik hati untuk mengantar dengan sebuah kendaraan, maka bebannya sedikit terkurangi dengan tiba di kampus lebih cepat.  Begitu juga jika sudah waktunya untuk pulang.
Sesampainya di kost, ia pun juga tetap melakukan aktivitas yang tak jauh berbeda dengan teman-teman kostnya yang semuanya normal. Tinggal bersama anak-anak normal tidak membuatnya menjadi pribadi yang banyak berharap belas kasih. Tidak jarang, ia membeli makan sendiri untuk mengisi perutnya yang lapar. Seusai makan, ia pun juga mencucinya sendiri. Bahkan ia juga sering mencuci baju sendiri hingga menjemurnya sendiri. Tertabrak tembok atau tertabrak benda-benda yang ada di hadapannya menjadi hal yang sangat wajar ketika awal-awal ia menjadi anak kost di tempat itu. Namun, lama kelamaan, melalui proses menghafal dengan menggunakan instingnya, ia bisa menjalani semua dengan ringan.
Novi gadis tunanetra yang sehari-harinya berpenampilan sederhana itu juga bukannya tidak pulang ke kampung halamannya sama sekali. Bahkan sesekali ia tetap merasa harus pulang ke kota yang dilalui banyak sungai di tengah kota seperti Venesia di Italia hingga Belanda menyebutnya Venetie Van Java itu dengan mengendarai bus. Langkah kakinya yang mandiri membuatnya berani melakukannya sendiri. Dengan keberaniannya bertanya pada orang yang bisa ia tanya tentang arah bus menuju Semarang, ia mampu membuktikan bahwa ia adalah gadis pemberani yang tangguh. Bahkan aku saja belum tentu berani melakukannya sendiri.
Walaupun saat-saat awal memulainya, rasa takut dan rasa kurang percaya diri pernah mengiringi gadis yang menyukai makanan manis ini, namun dengan berjalannya waktu serta keyakinannya yang kuat pada Tuhan, ia mampu menepis perasaannya itu dan kekhawatiran orang-orang terdekatnya mengenai adanya kemungkinan orang-orang jahat yang mungkin saja akan mengganggu perjalanannya. Dan hal itu tidak membuatnya mengurungkan niat untuk tetap bolak-balik Semarang-Solo, walaupun tidak dengan waktu yang berkala.
“Jangan jadikan keterbatasan sebagai penghalang, kita sebenarnya mampu, hanya saja kita memiliki cara berbeda dengan orang normal” demikian pesannya untuk teman-teman dengan kondisi serupa dengannya.  Selain itu ia juga menyampaikan saran lainnya, bahwa jika menerima ejekan, maka terima saja,dan jadikan itu sebagai pembangkit dan penyemangat bahwa AKU BISA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar