Sabtu, 14 Juni 2014

Akselerasi Dekadensi Moral. Menilik Kembali Peran Orang Tua dan Lembaga Pendidikan.



Akselerasi Dekadensi Moral
Menilik Kembali Peran Orang Tua dan Lembaga Pendidikan
Oleh : Azizah
Berapakah usia Anda sekarang? Jika Anda sekarang berusia sembilan belas tahun seperti saya, masih ingatkah  Anda tentang apa yang Anda lakukan di waktu senggang Anda dulu, sekitar sepuluh sampai tiga belas tahun yang lalu? Tepatnya ketika suasana di pendidikan dasar sudah mulai kita rasakan. Terkadang untuk tetap menjadi seorang anak dengan sebenar-benarnya anak-anak, permainan tradisional seperti engklek, delikan, bermain bola bekel dan seterusnya itulah yang menjadi alternatif paling menyenangkan di tengah-tengah kewajiban kita di Sekolah Dasar (SD) waktu itu.
Namun, apakah kita masih merasakan atmosfir yang sama dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini? Ketika perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi telah memungkinkan adanya perluasan alternatif kehidupan tanpa batas. Hingga hadirnya media massa serta new media atau akrab dikenal dengan internet itu telah menjadi competitor terhebat yang menyaingi permainan tradisional yang kita kenal dulu bagi kehidupan anak di era sekarang.
Masihkan kita menemukan anak-anak yang masih memainkan pola kesederhanaan dalam permainan tapi di dalamnya menyimpan banyak pelajaran seperti apa yang kita dulu mainkan, di mana di sana terdapat nilai kejujuran, kebersamaan, hingga kerja sama? Jika boleh saya menjawab dengan tegas, maka jawabannya adalah jarang, bahkan nyaris sudah tidak ada. Terlebih mereka yang hidup di perkotaan. Persaingan kehidupan perkotaan, di bawah naungan sebuah pergaulan mau tidak mau membawa seorang anak pada fase di mana mereka mengikuti budaya mainstream di lingkungan sekitar mereka. Dengan bermodalkan ikut-ikuttan, mereka sudah menjadi bagian dari arus utama itu. Terlebih ketika hal ini telah mengatas namakan rasa gengsi atau prestisius (prestige) dalam menjalani pola hidup yang semakin “kejam” ini.
Implikasi terparahnya adalah ketika muncul pemberitaan mengenai bagaimana kasus tindak asusila atau pelecehan seksual sekarang tidak hanya dapat dilakukan oleh remaja bahkan dewasa, namun nyatanya anak-anak pun telah mampu melakukannya. Bahkan terhadap tamannya sendiri. Terlebih hal itu dilakukan berkat kebiasannya menonton video porno. Hal inilah yang saya sebut dengan akselerasi atau percapatan akan adanya kemerosotan (dekadensi) moral. Di mana tidak hanya pada remaja ataupun dewasa fenomena ini menjadi hal yang sudah cukup meresahkan tapi nyatanya pada lingkungan anak-anak pun sudah tercemar oleh realitas ini. Tentunya hal ini bukan sekadar takdir tanpa adanya alasan kuat yang mendasarinya. Beberapa hal bahkan bisa menjadi acuan untuk mengkoreksi situasi ini.
Ditengah arus globalisasi yang memungkinkan perluasan informasi dan komunikasi melalui sejumlah teknologi, menjadikan peran orang tua dalam hal ini menjadi point sentral dalam mengemukakan hal yang pertama dan utama. Di mana orang tua dan keluarga merupakan tempat berlangsungnya sosialisasi primer yang dialami oleh anak-anak dan seharusnya lebih memiliki kendali atas sejumlah pengalaman yang dilakukan oleh seorang anak sekaligus menetukan kebiasaan mereka.
Dalam buku yang berjudul Child Development (Perkembangan Anak) karya Johm W. Santrock (2007), Sigmund Freud, seorang tokoh teori psikoanalisis mengungkapkan bahwa seorang anak jarang menyadari motif dan alasan dari perilaku mereka. Maka dari itu ia menekankan akan pentingnya keikutsertaan orang tua secara ketat dalam perkembangan anak dan pengalaman seorang anak dengan orang tuanya selama lima tahun pertama kehidupan adalah penentu yang cukup penting bagi perkembangan keperibadian anak lebih lanjut di samping  adanya hal lain yang tidak kalah memberikan pengaruh penting seperti konflik dan biologis. Tidak akan ada salahnya jika para orang tua mewujudkan pengendalian mereka terhadap pengalaman anak dengan cara  mengamati dan mengkoreksi cara bermain anak, pola pertemanan mereka, ketakutan yang mungkin mereka rasakan, ataukah mungkin terjadi agresi maupun konflik yang terjadi, dengan melakukan pendekatan yang menyenangkan melalui proses komunikasi yang bisa secara perlahan mulai dibiasakan. Sehingga tahapan ini bisa meminimalisir dan mengendalikan perilaku anak yang akan berakhir pada kebiasaan mereka.
Dengan membangun “pertemanan” antara orang tua dan anak sehingga tidak menimbulkan kesenjangan dan keengganan oleh anak adalah sebuah tindakan yang juga dirasa perlu dilakukan agar anak bisa terbuka terhadap orang tua mereka. Dan dalam hal ini orang tua pun memang harus melek akan sejumlah faktor yang dapat mempengaruhi perilaku anak, seperti sikap orang tuanya sendiri terhadap anak, lingkungannya, teman sepermainan (teman sebaya) nya, dan hadirnya media massa hingga hadirnya new media (internet) yang telah membuka peluang bagi siapapun termasuk anak-anak dalam mengakses berbagai hal termasuk video porno yang menjadi tontonan si bocah pelaku tindak asusila yang telah berhasil merebut perhatian saya itu. Tidak dapat dipungkiri bahwa materi atau konten yang dihadirkan media (baik televisi maupun internet) cukup memberikan pengaruh yang berawal dari sebuah persepsi hingga konsepsi dan berakhir pada sebuah tindakan. Maka dalam hal ini orang tua haruslah senantiasa memberikan pendampingan secara baik, wakaupun wujud pendampingan tidak selau harus berbentuk kehadiran orang tua secara riil disetiap detiknya.
Untuk itulah perlu sekali adanya komitmen oleh orang tua terhadap anak, dari hari ke hari, minggu, ke minggu, bulan ke bulan dan tahun ke tahun untuk memberikan anak sebuah lingkungan yang hangat, mendukung, dan merangsang mereka yang pada akhirnya akan membuat mereka merasa aman dan memungkinkan mereka untuk meraih potensi sepenuhnya. demi berlangsungnya proses tumbuh dan kembang yang baik dan sesuai harapan, di mana orang tua, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dalam hal ini menempati posisi (point) sentral, yang tentunya sangat menentukan dan sangat berpengaruh bagi situasi dan kondisi ini.
Koreksi berikutnya ada pada pendidikan seorang anak. Hal ini menjadi tugas penting bagi setiap tenaga atau lembaga pendidikan untuk bagaimana menciptakan sebuah lingkungan yang produktif dan menyenangkan bagi perkembangan anak. Kembali, John W. Santrock, dalam bukunya yang berjudul Child Development (Perkembangan Anak), mengungkapkan sejumah pertanyaan penting bagi dunia pendidikan, diantaranya perlukah membuat hari sekolah lebih panjang atau lebih pendek? Haruskah guru memiliki harapan yang tinggi terhadap murid dan sekaligus standar yang lebih sulit? Haruskah terdapat penekanan hafalan lebih banyak atau lebih sedikit? Haruskah sekolah berfokus hanya pada perkembangan pengetahuan dan keterampilan kognitif anak atau haruskah mereka lebih memperhatikan perkembangan sosial – emosi dan fisik anak didiknya? Tentunya pertanyaan-pertanyaan tersebut sekaligus menjadi renungan bagi lembaga pendidikan untuk menilik kembali bagaimana sistem pengajaran mereka terhadap anak selaku murid mereka.
Pada akhirnya, setiap hal selalu mengandung konsekuensi-konsekuensinya masing-masing. Tinggal bagaimana kesadaran kita mengantarkan kita pada sebuah tindakan untuk menghadapinya atau hanya berakhir pada pengamatan semata. Semoga bisa menjadi renungan kita bersama.