Senin, 10 November 2014


Radya Pustaka Museum held an Ageng Museum Radya Pustaka Carnival at Bhayangkara street Solo. There are any 8 collections were brought by participant of that procession on 7th, Friday 2014. They're series of event Sura Culture Month to preserving native culture of Solo.
#LatePost #Trial #Journalist #On #Duty

Kamis, 06 November 2014

Waktu Senggang Menjengkelkan

Pernah ngerasain jadi orang bingung sedunia? Saat-saat menjadi orang bingung sedunia dalam pengalaman saya adalah ketika kita bener-bener ngga ada kegiatan atau aktifitas lain yang menurut kita bermanfaat. Jadi kalo ngga cuman online, nonton tv, mainan hp atau sekadar makan, ngemil-ngemil gitu ters tidur.. Shucks„ mau jadi ape? ngegemukkin badan mah iya. Iye, gede badan doang, Ouch, No !
Terkadang waktu-waktu yang over-unoccupied  like that, emang bikin kita ngerasa jadi orang paling ngga guna sama sekali. Lah terus mau ngapain coba? Bukannya untuk mempertahankan kualitas diri itu ngga gitu yak? iya lah, cuma santai-santai doang, Mau maju dari mana? #ups
Meraih sebuah kesuksesan emang terbilang sulit. Tapi lebih sulit lagi ketika harus mempertahankannya. Itulah saat-saat di mana sebuah konsistensi diri mulai dipertaruhkan. Sebuah tanggung jawab mulai dipertanyakan. Ngga heran deh kalo banyak banget contoh-contoh real orang-orang di sekeliling kita yang bisa dikatakan ngga tahan godaan. Amblek di tengah jalan, Dih serem. (Amblek apaan sih? :D) wkwk
ya pokonya gitulah.
Oke, mungkin untuk kamu yang pernah  atau bahkan sering ngerasain pengalaman saya tersebut diatas, maka saya sudah sedikit menemukan cara untuk mengisi kekosongan waktu saya selain hanya untuk istirahat total macam orang sakit yang harus bed-rest itu. Terkecuali kalo emang lagi sakit beneran atau kecapekan total atau lagi spending time saat weekend atau emang lagi sedikit mengistirahatkan jiwa dan raga sebelum atau sesudah ujian termasuk sebelumnya telah mengemban tugas-tugas seabrek (problematika mahasiswa) :D haha
Pertama adalah kalo kamu emang orang yang kecanduan banget sama dunia internet, yang ngga pernah bisa terpisah dari  gadget kesayangan kamu, selain kamu buka account of your social media, coba sempattin deh buka link berita atau link informasi yang ada di dalamnya, atau buka situs berita tertentu. Kalo ngga ngerti alamat situsnya? ya googling laah„ Masa lupa sama buyut sendiri :D
Kedua, jika kamu orang yang suka nonton tv, ya jangan nonton sinetron atau inpotemen melulu lah, Coba deh, sekali-kali lihat channel-channel yang sekiranya menyiarkan acara-acara inspiratif yang educated gtu. Seengganya, kalo kamu masih berstatus menjadi siswa atau udah menjadi mahasiswa, bisa menambah wawasan dan cakrawala kamu tentang hidup ini, asseek ;D
Ketiga adalah mungkin ngga sih kalo kamu memanfaatkan gadget kesayangan kamu itu ga hanya untuk BBM’an sama gebetan atau pacar kamu? pasti mungkin kan. Selain kamu buka portal-portal berita dan informasi, cobadeh maksimalin dan manfaatin paketan internettan kamu itu untuk nge-browse hal-hal yang lebih nyenengin lagi. Ya itung2 have fun tapi masih tetep di koridor yang berkualitas. Misal update tentang film-film terbaru, baca sinopsisnya, apalagi yang pake bahasa asing (Inggris gitu), biar sekalian belajar bahasa asing. Biar lancaran dikit gitu. Selain itu kan kamu bisa jadi manusia yang ngga kudet (kurang update). Walaupun kamu ngga ada duit lebih untuk nonton di bioskop, ya ga ada salahnya ko buat tahu intinya dulu. Ntar kalo udah selang beberapa bulan, baru download dehh :D eehh :)
Terus yang keempat, ketika kamu adalah orang yang doyan banget sama cemilan atai ngemil, yah masa cuman mau ngemil doang sambil ngelamunin gebetan atau pacar kamu? iuuh monotone abis.. :P
Terus? nabrak :) :D Ya terus ya gitu, Selain bisa ngemil sambil nonton tv tadi, kamu bisa kan ngemil sambil baca buku? Kalo ngga suka baca? adduuhh„, udah mau 2015 masih jadi generasi yang ngga suka baca? aduuhh„ mirip saya kadang-kadang dong :D Tapi kadang-kadang aja yak…Untuk menjadi pribadi yang berkualitas secara konsisten salah satu jalannya adalah dengan mengetahui dan memahami banyak kondisi dan situasi. Dan buku adalah salah satu media yang meng-cover itu. Terus kalo ngga dengan cara di baca, diapain dong tu buku biar apa yang ada di dalamnya bisa kita mengerti? Dibacain? aduh, malah bercanda. Kalo kamu emang merasa sulit menumbuhkan minat baca, ya jangan langsung memaksakan diri baca buku diktat setebal 500 halama itu„ wkwk Cobalah untuk membujuk hati dan pikiran kamu serta semangat kamu dengan hal-hal yang menyenangkan dulu. Gimana? ya rumuskan dulu, kamu tu sebenernya suka terhadap apa? kalo suka sama cerita-cerita gitu, ya baca cerpen atau novel-novel dulu. Terus harus dilatih konsistensinya agar menjadi rutinitas dan terjadi peningkatan. Misal, dalam sehari kamu mengharuskan diri kamu untuk membaca 20 halaman dulu, maka istiqomahkan itu. InsyAllah, lama kelamaan kamu akan mulai terbiasa dan tentunya ingin melebihkan kualitas bacaanmu.
Dan yang terakhir, kalo kamu emang udah capek, ya jangan dipaksakan. Tidurlah untuk beristirahat. Tapi jangan terlalu sering tidur, karena akan membuat kamu menjadi orang yang ngantukan :D haha
hMM„, Mungkin itu dulu deh teman, yang bisa saya bagi. Sampai ketemu di pengalaman-pengalaman berikutnya yaa :)
see ya

Sabtu, 14 Juni 2014

Akselerasi Dekadensi Moral. Menilik Kembali Peran Orang Tua dan Lembaga Pendidikan.



Akselerasi Dekadensi Moral
Menilik Kembali Peran Orang Tua dan Lembaga Pendidikan
Oleh : Azizah
Berapakah usia Anda sekarang? Jika Anda sekarang berusia sembilan belas tahun seperti saya, masih ingatkah  Anda tentang apa yang Anda lakukan di waktu senggang Anda dulu, sekitar sepuluh sampai tiga belas tahun yang lalu? Tepatnya ketika suasana di pendidikan dasar sudah mulai kita rasakan. Terkadang untuk tetap menjadi seorang anak dengan sebenar-benarnya anak-anak, permainan tradisional seperti engklek, delikan, bermain bola bekel dan seterusnya itulah yang menjadi alternatif paling menyenangkan di tengah-tengah kewajiban kita di Sekolah Dasar (SD) waktu itu.
Namun, apakah kita masih merasakan atmosfir yang sama dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir ini? Ketika perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi telah memungkinkan adanya perluasan alternatif kehidupan tanpa batas. Hingga hadirnya media massa serta new media atau akrab dikenal dengan internet itu telah menjadi competitor terhebat yang menyaingi permainan tradisional yang kita kenal dulu bagi kehidupan anak di era sekarang.
Masihkan kita menemukan anak-anak yang masih memainkan pola kesederhanaan dalam permainan tapi di dalamnya menyimpan banyak pelajaran seperti apa yang kita dulu mainkan, di mana di sana terdapat nilai kejujuran, kebersamaan, hingga kerja sama? Jika boleh saya menjawab dengan tegas, maka jawabannya adalah jarang, bahkan nyaris sudah tidak ada. Terlebih mereka yang hidup di perkotaan. Persaingan kehidupan perkotaan, di bawah naungan sebuah pergaulan mau tidak mau membawa seorang anak pada fase di mana mereka mengikuti budaya mainstream di lingkungan sekitar mereka. Dengan bermodalkan ikut-ikuttan, mereka sudah menjadi bagian dari arus utama itu. Terlebih ketika hal ini telah mengatas namakan rasa gengsi atau prestisius (prestige) dalam menjalani pola hidup yang semakin “kejam” ini.
Implikasi terparahnya adalah ketika muncul pemberitaan mengenai bagaimana kasus tindak asusila atau pelecehan seksual sekarang tidak hanya dapat dilakukan oleh remaja bahkan dewasa, namun nyatanya anak-anak pun telah mampu melakukannya. Bahkan terhadap tamannya sendiri. Terlebih hal itu dilakukan berkat kebiasannya menonton video porno. Hal inilah yang saya sebut dengan akselerasi atau percapatan akan adanya kemerosotan (dekadensi) moral. Di mana tidak hanya pada remaja ataupun dewasa fenomena ini menjadi hal yang sudah cukup meresahkan tapi nyatanya pada lingkungan anak-anak pun sudah tercemar oleh realitas ini. Tentunya hal ini bukan sekadar takdir tanpa adanya alasan kuat yang mendasarinya. Beberapa hal bahkan bisa menjadi acuan untuk mengkoreksi situasi ini.
Ditengah arus globalisasi yang memungkinkan perluasan informasi dan komunikasi melalui sejumlah teknologi, menjadikan peran orang tua dalam hal ini menjadi point sentral dalam mengemukakan hal yang pertama dan utama. Di mana orang tua dan keluarga merupakan tempat berlangsungnya sosialisasi primer yang dialami oleh anak-anak dan seharusnya lebih memiliki kendali atas sejumlah pengalaman yang dilakukan oleh seorang anak sekaligus menetukan kebiasaan mereka.
Dalam buku yang berjudul Child Development (Perkembangan Anak) karya Johm W. Santrock (2007), Sigmund Freud, seorang tokoh teori psikoanalisis mengungkapkan bahwa seorang anak jarang menyadari motif dan alasan dari perilaku mereka. Maka dari itu ia menekankan akan pentingnya keikutsertaan orang tua secara ketat dalam perkembangan anak dan pengalaman seorang anak dengan orang tuanya selama lima tahun pertama kehidupan adalah penentu yang cukup penting bagi perkembangan keperibadian anak lebih lanjut di samping  adanya hal lain yang tidak kalah memberikan pengaruh penting seperti konflik dan biologis. Tidak akan ada salahnya jika para orang tua mewujudkan pengendalian mereka terhadap pengalaman anak dengan cara  mengamati dan mengkoreksi cara bermain anak, pola pertemanan mereka, ketakutan yang mungkin mereka rasakan, ataukah mungkin terjadi agresi maupun konflik yang terjadi, dengan melakukan pendekatan yang menyenangkan melalui proses komunikasi yang bisa secara perlahan mulai dibiasakan. Sehingga tahapan ini bisa meminimalisir dan mengendalikan perilaku anak yang akan berakhir pada kebiasaan mereka.
Dengan membangun “pertemanan” antara orang tua dan anak sehingga tidak menimbulkan kesenjangan dan keengganan oleh anak adalah sebuah tindakan yang juga dirasa perlu dilakukan agar anak bisa terbuka terhadap orang tua mereka. Dan dalam hal ini orang tua pun memang harus melek akan sejumlah faktor yang dapat mempengaruhi perilaku anak, seperti sikap orang tuanya sendiri terhadap anak, lingkungannya, teman sepermainan (teman sebaya) nya, dan hadirnya media massa hingga hadirnya new media (internet) yang telah membuka peluang bagi siapapun termasuk anak-anak dalam mengakses berbagai hal termasuk video porno yang menjadi tontonan si bocah pelaku tindak asusila yang telah berhasil merebut perhatian saya itu. Tidak dapat dipungkiri bahwa materi atau konten yang dihadirkan media (baik televisi maupun internet) cukup memberikan pengaruh yang berawal dari sebuah persepsi hingga konsepsi dan berakhir pada sebuah tindakan. Maka dalam hal ini orang tua haruslah senantiasa memberikan pendampingan secara baik, wakaupun wujud pendampingan tidak selau harus berbentuk kehadiran orang tua secara riil disetiap detiknya.
Untuk itulah perlu sekali adanya komitmen oleh orang tua terhadap anak, dari hari ke hari, minggu, ke minggu, bulan ke bulan dan tahun ke tahun untuk memberikan anak sebuah lingkungan yang hangat, mendukung, dan merangsang mereka yang pada akhirnya akan membuat mereka merasa aman dan memungkinkan mereka untuk meraih potensi sepenuhnya. demi berlangsungnya proses tumbuh dan kembang yang baik dan sesuai harapan, di mana orang tua, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dalam hal ini menempati posisi (point) sentral, yang tentunya sangat menentukan dan sangat berpengaruh bagi situasi dan kondisi ini.
Koreksi berikutnya ada pada pendidikan seorang anak. Hal ini menjadi tugas penting bagi setiap tenaga atau lembaga pendidikan untuk bagaimana menciptakan sebuah lingkungan yang produktif dan menyenangkan bagi perkembangan anak. Kembali, John W. Santrock, dalam bukunya yang berjudul Child Development (Perkembangan Anak), mengungkapkan sejumah pertanyaan penting bagi dunia pendidikan, diantaranya perlukah membuat hari sekolah lebih panjang atau lebih pendek? Haruskah guru memiliki harapan yang tinggi terhadap murid dan sekaligus standar yang lebih sulit? Haruskah terdapat penekanan hafalan lebih banyak atau lebih sedikit? Haruskah sekolah berfokus hanya pada perkembangan pengetahuan dan keterampilan kognitif anak atau haruskah mereka lebih memperhatikan perkembangan sosial – emosi dan fisik anak didiknya? Tentunya pertanyaan-pertanyaan tersebut sekaligus menjadi renungan bagi lembaga pendidikan untuk menilik kembali bagaimana sistem pengajaran mereka terhadap anak selaku murid mereka.
Pada akhirnya, setiap hal selalu mengandung konsekuensi-konsekuensinya masing-masing. Tinggal bagaimana kesadaran kita mengantarkan kita pada sebuah tindakan untuk menghadapinya atau hanya berakhir pada pengamatan semata. Semoga bisa menjadi renungan kita bersama.


Kamis, 29 Mei 2014

Sang Inspirator Dari Venetie Van Java -Another Style-


Sang Inspirator Dari Venentie Van Java
(Another Style)
Tidak ada manusia yang sempurna. Itulah sepenggal kalimat motivasi yang sering kita dengar, untuk menjelaskan bahwa setiap manusia pasti memiliki kekurangan. Itulah takdir Tuhan yang tidak dapat terhindarkan. Dan hal inilah yang sepertinya disadari betul oleh seorang gadis penyandang tunanetra bernama Novi Titi Purwani atau akrab disapa Novi.
Keteguhannya menjalani hidup sebagai seorang mahasiswi di sebuah kampus umum, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta membuatku penasaran. Menjalani hidup dengan keterbatasan yang dimilikinya ditengah-tengah kehidupan manusia yang mayoritas normal memang tidaklah mudah. Aku ingin berbincang-bincang dengannya. Tapi tidak semudah itu, aku harus menemukan waktu yang tepat untuk hal ini. Hingga aku memutuskan untuk mendatangi rumah kost di mana ia tinggal.
Gadis berusia 24 tahun yang berasal dari Venetie Van Java atau kita kenal dengan kota Semarang itu  tinggal di sebuah rumah kost bernama Orchyd yang terletak tidak jauh dari kampusnya.
Selasa, 20 Mei 2014 sekitar pukul 13.30 selepas pulang kuliah, dengan menaiki motor bebekku, aku mendatangi tempat di mana ia tinggal selama merantau di Solo itu. Dengan jarak sekitar satu kilometer dari kampus IAIN di mana aku juga menuntut ilmu di sana, aku melihat pintu gerbang paling luarnya terbuka. Aku sedikit lega, itu artinya aku bisa masuk. Ternyata di dalamnya masih ada pintu gerbang lagi, namun masih tertutup. Segera saja aku memarkirkan motorku. Dan dengan perlahan membukanya, setelah sebelumnya aku memberitahunya melalui telefon, bahwa aku telah tiba.
Aplikasi bernama talk yang memang diperuntukkan bagi penyandang tunanetra yang terdapat di dalam telefon genggamnya, paling tidak membuat dirinya bisa merasakan kecanggihan teknologi yang dapat mempermudah akses komunikasi sesuai keinginan dan kebutuhannya.
Dengan cahaya yang tidak terlalu terang, dan tempat yang berbentuk seperti lorong, aku melihat deretan kamar yang berbaris di sisi kanan dan sisi kiri. Dari dua lantai yang ada, kamar Novi, terdapat di lantai satu, katanya saat aku menelfon tadi. Namun, barisan kamar itu membuatku bingung, di sebelah mana ia tinggal? Kealpaanku untuk bertanya sebelumnya, membuatku malas untuk menelfonnya kembali. Dan aku lebih memilih mendekati sebuah kamar disisi kiri yang kebetulan terbuka. Dan aku pun bertanya pada seorang gadis penghuni kamar yang sedang duduk di atas tempat tidurnya itu. “maaf mbak, mau nanya, kamarnya mbak Novi di mana ya..?”tanyaku “Di hijau nomor 8”, jawabnya.
Dalam hati, aku lebih bingung lagi, apa maksud dari “hijau nomor 8”. Entah perasaan atau intuisi dari mana yang mengarahkanku untuk mendekati satu pintu yang seperti ingin membuka diri. Benar saja, itu kamar Novi. Aku beru menyadari bahwa sebutan warna hijau adalah untuk menyebut sebuah tembok dengan cat warna hijau untuk membedakan antara barisan kamar yang ada di sisi kanan (utara) dan tembok dengan cat warna kuning atau biasa disebut kuning, untuk menunjukkan barisan kamar yang ada di sisi kiri (selatan).
Rupanya dia sedang menyapu sambil membuka pintu kamar yang masih gelap itu dan rasanya aku telah mengagetkannya dengan memanggil namanya. Di awal pertemuan itu, aku sudah di buat kagum dengan kegigihannya menyapu. Menyapu adalah hal yang sepele untuk manusia normal, tapi untuk yang satu ini, aku harus menungkapkan kekagumanku.
Ia pun menghidupkan lampu kamarnya, setelah aku menanyakan mengapa lampunya mati. Dengan ukuran kamar sekitar 3x4 yang dilengkapi kamar mandi dalam itu, aku merasakan suasana yang cukup nyaman. Seperti kamar kost orang pada umumnya, di sana ada satu tempat tidur beralaskan karpet tipis, satu lemari plastik warna-warni dengan empat pintu, ada sebuah meja berukuran sedang, tempat meletakkan barang-barang kecilnya, dan ada sebuah mangkuk yang sepertinya usai digunakan untuk makan.
Dan mataku tertuju pada sesuatu yang juga tak mau kalah bertengger diatas meje segi empat itu. Adalah sebuah piala yang bertuliskan Juara III Tingkat Propinsi dalam lomba menyanyikan lagu perjuangan. Dan hal itu dilakukannya saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) lalu.  Bahkan tak hanya itu, gadis yang mengaku senang bernyanyi dan mendengarkan tembang-tembang karawitan ini sudah banyak menorehkan banyak prestasi baik dalam hal bernyanyi dan prestasi seputar pengetahuan umum.
Diawali saat ia duduk di Sekolah Dasar (SD) ia juga telah meraih Juara III (Tiga) Tingkat Provinsi dalam menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Bahkan ia pernah meraih Juara III (Tiga) Tingkat Kecamatan dalam menyayikan lagu pop dengan bersaingkan anak normal. Serta masih banyak lagi prestasi yang telah ia dapatkan dalam hal bernyanyi.
Selain itu, keberhasilannya menyabet Juara I (Pertama) dalam mengerjakan test Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Tingkat Provinsi yang diadakan di Boyolali pada tahun 2004 silam menjadi sebuah prestasi yang semakin menunjukkan bahwa ia adalah orang yang tetap mensyukuri kehidupannya ini melalui karya dan prestasi. Tak hanya itu, prestasinya dalam hal pengetahuan umum, ia wujudkan pula di tahun yang sama dengan  meraih Juara Harapan I (Pertama) Tingkat Provinsi dalam mengerjakan test Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) namun diadakan di kota berbeda, yaitu Bali.
Dengan kondisi mata yang nyaris tertutup rapat, ia mulai menceritakan pengalaman lainnya berdasarkan pertanyaan yang aku lontarkan. Suasana ini semakin meyakinkanku bahwa inilah pengalaman pertamaku berbincang dengan penyandang tunanetra (Disable) secara langsung. Gadis berkulit putih yang memiliki tiggi badan sekitar 160 cm itu adalah seseorang yang tidak bisa melihat sejak lahir. Bahkan anak pertama dari tiga bersaudara ini pernah mendengar pertanyaan dari salah seorang temannya yang mengatakan.”kenapa ngga operasi mbak? Enak lho bisa melihat dunia kayak aku.. dunia indah hlo mbak…” 
Ia hanya mampu tersenyum kecil yang dalam benaknya sesungguhnya juga menginginkan hal itu. Menginginkan untuk menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri tentang bagaimana sebenarnya dunia yang orang bilang indah ini. Namun apa daya, hingga detik ini belum ada yang memberinya bantuan dana untuk melakukan operasi. Mengingat untuk melakukan operasi mata memerlukan biaya yang tak sedikit.
Maka dalam menanggapi pertanyaan seperti itu, ia mengatakan bahwa sejauh ini dirinya mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan untuknya. Dengan keyakinannya, ia mengatakan bahwa keterbatasan itu bukanlah penghalang aktivitasnya karena ia mampu bangkit. “Karena orang cacat itu bukan untuk dikasihani, tapi untuk diperhatikan..” ungkapnya dengan senyum kecil yang hampir tak pernah lupa untuk ia sunggingkan. Ia memang gadis yang murah senyum.
Sang Inspirator. Rasanya tak berlebihan jika sebutan itu disematkan kepada penyandang disabilitas bernama Novi ini. Kekuatan dan keyakinannya patut untuk menjadi pelajaran tidak hanya bagi sesamanya namun juga untuk semuanya. Semua orang yang mungkin pernah merasakan hal yang tidak mengenakkan dalam hidupnya. Bahwa bersyukur adalah yang utama.
Wujud syukurnya tidak hanya berhenti di situ. Keinginannya yang kuat untuk memperoleh pendidikan setinggi-tingginya hingga cita-citanya untuk menjadi seorang guru konseling di SLB tercapai. di buktikannya melalui proses belajarnya di jurusan Bimbingan Konseling Islam (BKI). Hari-harinya dilakukan layaknya mahasiswa pada umumnya. Beruntung ia masih mempunyai teman-teman yang tidak keberatan untuk membantunya dalam proses pembelajaran di kelas. Baik saat dosen memberikan keterangan-keterangan penting, saat ada tugas dan terlebih ketika ujian. Saat ujian tiba, ia pun tetap mengikuti ujian dengan dibantu oleh temannya membacakan soal yang ada. Demikian juga terhadap persiapannya. Belajar sebelum ujian juga menjadi hal yang penting, hingga rasa syukur tetap mengalir ketika masih ada temannya yang bersedia membantunya belajar untuk menghadapi soal-soal ujian.
Bahkan Supandi, selaku wali studinya mengatakan bahwa Novi memiliki perhatian yang baik saat di kelas, dan dengan kondisinya yang demikian dia termasuk murid yang memiliki pemahaman yang baik dan juga semangat yang tinggi sehingga mengantarkan dirinya pada pencapaian berupa nilai yang baik. Semangat belajarnya juga terlihat dengan kehadirannya yang selalu tepat waktu dalam perkuliahan.
Padahal ketika berangkat dan pulang kuliah pun juga sesuai jadwal yang ada. Ketika berangkat kuliah, jika tidak ada yang dapat mengantar, maka ia tetap berusaha berjalan menyusuri jalanan menuju kampus dengan tongkat khususnya. Tongkat yang berwarna putih dan disertai reflektor warna merah itu memang didesain khusus bagi penyandang tunanetra, agar ketika malam hari, orang lain yang melihat mampu mengenalinya bahwa ia sedang berjalan. Namun jika ada yang berbaik hati untuk mengantar dengan sebuah kendaraan, maka bebannya sedikit terkurangi dengan tiba di kampus lebih cepat.  Begitu juga jika sudah waktunya untuk pulang.
Sesampainya di kost, ia pun juga tetap melakukan aktivitas yang tak jauh berbeda dengan teman-teman kostnya yang semuanya normal. Tinggal bersama anak-anak normal tidak membuatnya menjadi pribadi yang banyak berharap belas kasih. Tidak jarang, ia membeli makan sendiri untuk mengisi perutnya yang lapar. Seusai makan, ia pun juga mencucinya sendiri. Bahkan ia juga sering mencuci baju sendiri hingga menjemurnya sendiri. Tertabrak tembok atau tertabrak benda-benda yang ada di hadapannya menjadi hal yang sangat wajar ketika awal-awal ia menjadi anak kost di tempat itu. Namun, lama kelamaan, melalui proses menghafal dengan menggunakan instingnya, ia bisa menjalani semua dengan ringan.
Novi gadis tunanetra yang sehari-harinya berpenampilan sederhana itu juga bukannya tidak pulang ke kampung halamannya sama sekali. Bahkan sesekali ia tetap merasa harus pulang ke kota yang dilalui banyak sungai di tengah kota seperti Venesia di Italia hingga Belanda menyebutnya Venetie Van Java itu dengan mengendarai bus. Langkah kakinya yang mandiri membuatnya berani melakukannya sendiri. Dengan keberaniannya bertanya pada orang yang bisa ia tanya tentang arah bus menuju Semarang, ia mampu membuktikan bahwa ia adalah gadis pemberani yang tangguh. Bahkan aku saja belum tentu berani melakukannya sendiri.
Walaupun saat-saat awal memulainya, rasa takut dan rasa kurang percaya diri pernah mengiringi gadis yang menyukai makanan manis ini, namun dengan berjalannya waktu serta keyakinannya yang kuat pada Tuhan, ia mampu menepis perasaannya itu dan kekhawatiran orang-orang terdekatnya mengenai adanya kemungkinan orang-orang jahat yang mungkin saja akan mengganggu perjalanannya. Dan hal itu tidak membuatnya mengurungkan niat untuk tetap bolak-balik Semarang-Solo, walaupun tidak dengan waktu yang berkala.
“Jangan jadikan keterbatasan sebagai penghalang, kita sebenarnya mampu, hanya saja kita memiliki cara berbeda dengan orang normal” demikian pesannya untuk teman-teman dengan kondisi serupa dengannya.  Selain itu ia juga menyampaikan saran lainnya, bahwa jika menerima ejekan, maka terima saja,dan jadikan itu sebagai pembangkit dan penyemangat bahwa AKU BISA.

Rabu, 28 Mei 2014

Sang Inspirator Dari Venetie Van Java


Sang Inspirator Dari Venetie Van Java
Kulitnya yang putih, jalannya yang meraba-raba dengan kondisi mata yang nyaris tertutup rapat, adalah beberapa ciri dari seorang gadis penyandang tunanetra bernama Novi Titi Purwani atau akrab disapa Novi. Penyandang cacat pada penglihatan dengan tinggi sekitar 160 cm itu adalah seorang mahasiswi jurusan Bimbingan Konseling Islam (BKI) di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta yang berasal dari Venetie Van Java atau kita kenal dengan kota Semarang.
Kegigihannya untuk merantau ke kota Solo, semakin menunjukkan bahwa anak pertama dari tiga bersaudara ini bukanlah anak yang merasa putus asa dengan takdir hidupnya. Tuhan yang menakdirkan dirinya untuk tidak dapat melihat sejak lahir, tidak lantas membuatnya menjadi pribadi yang tidak bersyukur. Ia sangat menyadari betul bahwa keadaannya saat ini adalah atas takdir yang Maha Kuasa. Bahkan ia pernah menerima pertanyaan dari salah seorang temannya yang mengatakan ”Kenapa ngga operasi mbak? Enak lho bisa melihat dunia kayak aku.. dunia indah hlo mbak…”  Ia hanya mampu tersenyum kecil yang dalam benaknya sesungguhnya juga menginginkan hal itu. Menginginkan untuk menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri tentang bagaimana sebenarnya dunia yang orang bilang indah ini. Namun apa daya, hingga detik ini belum ada yang memberinya bantuan dana untuk melakukan operasi. Mengingat untuk melakukan operasi mata memerlukan biaya yang tak sedikit.
Maka dalam menanggapi pertanyaan seperti itu, ia mengatakan bahwa sejauh ini dirinya mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan untuknya. Dengan keyakinannya, ia mengatakan bahwa keterbatasan itu bukanlah penghalang aktivitasnya karena ia mampu bangkit. “Karena orang cacat itu bukan untuk dikasihani, tapi untuk diperhatikan..” ungkapnya dengan senyum kecil yang hampir tak pernah lupa untuk ia sunggingkan.
Kekuatan dan keyakinan gadis berusia 24 tahun itu patut untuk menjadi pelajaran, tidak hanya bagi sesama penyandang cacat namun juga untuk semua. Semua orang yang mungkin pernah merasakan hal yang tidak mengenakkan dalam hidupnya. Bahwa bersyukur adalah yang utama. Sang Inspirator. Rasanya tak berlebihan jika sebutan itu disematkan kepada penyandang disabilitas bernama Novi ini.
Bahkan keberhasilannya menyabet Juara I (Pertama) dalam mengerjakan test Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Tingkat Provinsi yang diadakan di Boyolali pada tahun 2004 silam menjadi sebuah prestasi yang semakin menunjukkan bahwa ia adalah orang yang tetap mensyukuri kehidupannya ini melalui karya dan prestasi. Tak hanya itu, prestasinya dalam hal pengetahuan umum, ia wujudkan pula di tahun yang sama dengan  meraih Juara Harapan I (Pertama) Tingkat Provinsi dalam mengerjakan test Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) namun diadakan di kota berbeda, yaitu Bali.
 Selain itu gadis yang senang mendengarkan dan menyanyikan tembang-tembang karawitan ini masih menorehkan sejumlah prestasi lain yaitu dalam hal bernyanyi. Diawali saat ia duduk di Sekolah Dasar (SD) ia telah meraih Juara III (Tiga) Tingkat Provinsi dalam menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Prestasi serupa kembali ditunjukkannya saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), dengan juga meraih Juara III (Tiga) Tingkat Provinsi dalam menyanyikan lagu-lagu perjuangan, bahkan ia pun pernah meraih Juara III (Tiga) Tingkat Kecamatan dalam menyayikan lagu pop dengan bersaingkan anak normal. Serta masih banyak lagi prestasi yang telah ia dapatkan dalam hal bernyanyi.
Wujud syukurnya tidak hanya berhenti di situ. Keinginannya yang kuat untuk memperoleh pendidikan setinggi-tingginya hingga cita-citanya untuk menjadi seorang guru konseling di SLB tercapai. di buktikannya melalui proses belajarnya di kampus IAIN Surakarta tersebut. Hari-harinya dilakukan layaknya mahasiswa pada umumnya. Beruntung ia masih mempunyai teman-teman yang tidak keberatan untuk membantunya dalam proses pembelajaran di kelas. Baik saat dosen memberikan keterangan-keterangan penting, saat ada tugas kuliah dan terlebih ketika ujian. Saat ujian tiba, ia pun tetap mengikuti ujian dengan dibantu oleh temannya membacakan soal yang ada. Demikian juga terhadap persiapannya. Baginya belajar sebelum ujian juga menjadi hal yang penting, hingga rasa syukur tetap mengalir ketika masih ada temannya yang bersedia membantunya belajar untuk menghadapi soal-soal ujian.
Bahkan Supandi, selaku wali studinya mengatakan bahwa Novi memiliki perhatian yang baik saat di kelas, dan dengan kondisinya yang demikian dia termasuk murid yang memiliki pemahaman yang baik dan juga semangat yang tinggi sehingga mengantarkan dirinya pada pencapaian berupa nilai yang baik. Semangat belajarnya juga terlihat dengan kehadirannya yang selalu tepat waktu dalam perkuliahan.
Padahal ketika berangkat dan pulang kuliah pun juga sesuai jadwal yang ada. Ketika berangkat kuliah, jika tidak ada yang dapat mengantar, maka ia tetap berusaha berjalan menyusuri jalanan menuju kampus dengan tongkatnya. Namun jika ada yang berbaik hati untuk mengantar dengan sebuah kendaraan, maka bebannya sedikit terkurangi dengan tiba di kampus lebih cepat.  Begitu juga jika sudah waktunya untuk pulang.
Selama berada di Solo, Novi tinggal di sebuah rumah kost bernama Orchyd yang berjarak hanya sekitar satu kilometer dari kampusnya. Sesampainya di kost dengan suasana rumah seperti lorong, di dalam sebuah kamar dengan ciri tembok berwarna hijau bernomor delapan yang terletak diantara barisan kamar yang berderet di sisi kanan dan kiri itu, ia pun juga tetap melakukan aktivitas yang tak jauh berbeda dengan teman-teman kostnya yang semuanya normal. Tinggal bersama anak-anak normal tidak membuatnya menjadi pribadi yang banyak berharap belas kasih.
Tak jarang, ia membeli makan sendiri untuk mengisi perutnya yang lapar. Hal itu dilakukan jika tidak ada yang dapat membantunya. Seusai makan, ia pun juga mencuci peralatan makannya sendiri. Bahkan ia juga sering mencuci baju sendiri di kamar mandi yang berada di dalam kamarnya itu, hingga menjemurnya sendiri. Tertabrak tembok atau tertabrak benda-benda yang ada di hadapannya menjadi hal yang sangat wajar ketika awal-awal ia menjadi anak kost di tempat itu. Namun, dengan berjalannya waktu, melalui proses menghafal dan mengandalkan serta memaksimalkan fungsi-fungsi indranya yang lain, ia bisa menjalani semua dengan ringan.
Novi gadis tunanetra yang sehari-harinya berpenampilan sederhana itu juga bukannya tidak pulang ke kampung halamannya sama sekali. Bahkan sesekali ia tetap merasa harus pulang ke kota yang dilalui banyak sungai di tengah kota seperti Venesia di Italia hingga Belanda menyebutnya Venetie Van Java itu dengan mengendarai bus. Langkah kakinya yang mandiri membuatnya berani melakukannya sendiri. Dengan keberaniannya bertanya pada orang yang bisa ia tanya tentang arah bus menuju Semarang, ia mampu membuktikan bahwa ia adalah gadis pemberani yang tangguh.
Walaupun saat-saat awal memulainya, rasa takut dan rasa kurang percaya diri pernah mengiringi gadis yang menyukai makanan manis ini, namun dengan berjalannya waktu serta keyakinannya yang kuat pada Tuhan, ia mampu menepis perasaannya itu dan kekhawatiran orang-orang terdekatnya mengenai adanya kemungkinan orang-orang jahat yang mungkin saja akan mengganggu perjalanannya. Dan hal itu tidak membuatnya mengurungkan niat untuk tetap bolak-balik Semarang-Solo, walaupun tidak dengan waktu yang berkala.
“Jangan jadikan keterbatasan sebagai penghalang, kita sebenarnya mampu, hanya saja kita memiliki cara berbeda dengan orang normal” demikian pesannya untuk teman-teman dengan kondisi serupa dengannya.  Selain itu ia juga menyampaikan saran lainnya, bahwa jika menerima ejekan, maka terima saja,dan jadikan itu sebagai pembangkit dan penyemangat bahwa AKU BISA.