Sang Inspirator Dari Venentie Van Java
(Another Style)
Tidak ada manusia yang sempurna.
Itulah sepenggal kalimat motivasi yang sering kita dengar, untuk menjelaskan bahwa
setiap manusia pasti memiliki kekurangan. Itulah takdir Tuhan yang tidak dapat
terhindarkan. Dan hal inilah yang sepertinya disadari betul oleh seorang gadis
penyandang tunanetra bernama Novi Titi Purwani atau akrab disapa Novi.
Keteguhannya menjalani hidup sebagai
seorang mahasiswi di sebuah kampus umum, Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Surakarta membuatku penasaran. Menjalani hidup dengan keterbatasan yang
dimilikinya ditengah-tengah kehidupan manusia yang mayoritas normal memang
tidaklah mudah. Aku ingin berbincang-bincang dengannya. Tapi tidak semudah itu,
aku harus menemukan waktu yang tepat untuk hal ini. Hingga aku memutuskan untuk
mendatangi rumah kost di mana ia tinggal.
Gadis berusia 24 tahun yang berasal
dari Venetie Van Java atau kita kenal
dengan kota Semarang itu tinggal di sebuah rumah kost bernama Orchyd yang
terletak tidak jauh dari kampusnya.
Selasa, 20 Mei 2014 sekitar pukul
13.30 selepas pulang kuliah, dengan menaiki motor bebekku, aku mendatangi
tempat di mana ia tinggal selama merantau di Solo itu. Dengan jarak sekitar
satu kilometer dari kampus IAIN di mana aku juga menuntut ilmu di sana, aku
melihat pintu gerbang paling luarnya terbuka. Aku sedikit lega, itu artinya aku
bisa masuk. Ternyata di dalamnya masih ada pintu gerbang lagi, namun masih
tertutup. Segera saja aku memarkirkan motorku. Dan dengan perlahan membukanya,
setelah sebelumnya aku memberitahunya melalui telefon, bahwa aku telah tiba.
Aplikasi bernama talk yang memang diperuntukkan bagi
penyandang tunanetra yang terdapat di dalam telefon genggamnya, paling tidak
membuat dirinya bisa merasakan kecanggihan teknologi yang dapat mempermudah
akses komunikasi sesuai keinginan dan kebutuhannya.
Dengan cahaya yang tidak terlalu
terang, dan tempat yang berbentuk seperti lorong, aku melihat deretan kamar
yang berbaris di sisi kanan dan sisi kiri. Dari dua lantai yang ada, kamar
Novi, terdapat di lantai satu, katanya saat aku menelfon tadi. Namun, barisan
kamar itu membuatku bingung, di sebelah mana ia tinggal? Kealpaanku untuk
bertanya sebelumnya, membuatku malas untuk menelfonnya kembali. Dan aku lebih
memilih mendekati sebuah kamar disisi kiri yang kebetulan terbuka. Dan aku pun
bertanya pada seorang gadis penghuni kamar yang sedang duduk di atas tempat
tidurnya itu. “maaf mbak, mau nanya, kamarnya mbak Novi di mana ya..?”tanyaku
“Di hijau nomor 8”, jawabnya.
Dalam hati, aku lebih bingung lagi,
apa maksud dari “hijau nomor 8”. Entah perasaan atau intuisi dari mana yang
mengarahkanku untuk mendekati satu pintu yang seperti ingin membuka diri. Benar
saja, itu kamar Novi. Aku beru menyadari bahwa sebutan warna hijau adalah untuk
menyebut sebuah tembok dengan cat warna hijau untuk membedakan antara barisan
kamar yang ada di sisi kanan (utara) dan tembok dengan cat warna kuning atau
biasa disebut kuning, untuk menunjukkan barisan kamar yang ada di sisi kiri
(selatan).
Rupanya dia sedang menyapu sambil
membuka pintu kamar yang masih gelap itu dan rasanya aku telah mengagetkannya
dengan memanggil namanya. Di awal pertemuan itu, aku sudah di buat kagum dengan
kegigihannya menyapu. Menyapu adalah hal yang sepele untuk manusia normal, tapi
untuk yang satu ini, aku harus menungkapkan kekagumanku.
Ia pun menghidupkan lampu kamarnya,
setelah aku menanyakan mengapa lampunya mati. Dengan ukuran kamar sekitar 3x4
yang dilengkapi kamar mandi dalam itu, aku merasakan suasana yang cukup nyaman.
Seperti kamar kost orang pada umumnya, di sana ada satu tempat tidur beralaskan
karpet tipis, satu lemari plastik warna-warni dengan empat pintu, ada sebuah
meja berukuran sedang, tempat meletakkan barang-barang kecilnya, dan ada sebuah
mangkuk yang sepertinya usai digunakan untuk makan.
Dan mataku tertuju pada sesuatu yang
juga tak mau kalah bertengger diatas meje segi empat itu. Adalah sebuah piala
yang bertuliskan Juara III Tingkat Propinsi dalam lomba menyanyikan lagu
perjuangan. Dan hal itu dilakukannya saat ia duduk di bangku Sekolah Menengah
Atas (SMA) lalu. Bahkan tak hanya itu,
gadis yang mengaku
senang bernyanyi dan mendengarkan tembang-tembang karawitan ini sudah banyak
menorehkan banyak prestasi baik dalam hal bernyanyi dan prestasi seputar
pengetahuan umum.
Diawali saat ia duduk di Sekolah Dasar (SD)
ia juga telah meraih Juara III (Tiga) Tingkat Provinsi dalam menyanyikan
lagu-lagu perjuangan. Bahkan ia pernah meraih Juara III (Tiga)
Tingkat Kecamatan dalam menyayikan lagu pop dengan bersaingkan anak normal.
Serta masih banyak lagi prestasi yang telah ia dapatkan dalam hal bernyanyi.
Selain itu,
keberhasilannya menyabet Juara I (Pertama) dalam mengerjakan test Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS) Tingkat Provinsi yang diadakan di Boyolali pada tahun
2004 silam menjadi sebuah prestasi yang semakin menunjukkan bahwa ia adalah
orang yang tetap mensyukuri kehidupannya ini melalui karya dan prestasi. Tak hanya itu, prestasinya dalam
hal pengetahuan umum, ia wujudkan pula di tahun yang sama dengan meraih Juara Harapan I (Pertama) Tingkat
Provinsi dalam mengerjakan test Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) namun diadakan di
kota berbeda, yaitu Bali.
Dengan kondisi
mata yang nyaris tertutup rapat, ia mulai menceritakan pengalaman lainnya
berdasarkan pertanyaan yang aku lontarkan. Suasana ini semakin meyakinkanku
bahwa inilah pengalaman pertamaku berbincang dengan penyandang tunanetra (Disable) secara langsung. Gadis berkulit
putih yang memiliki tiggi badan sekitar 160 cm itu adalah seseorang yang tidak
bisa melihat sejak lahir. Bahkan anak pertama dari tiga bersaudara ini pernah
mendengar pertanyaan dari salah seorang temannya yang mengatakan.”kenapa ngga
operasi mbak? Enak lho bisa melihat dunia kayak aku.. dunia indah hlo
mbak…”
Ia hanya mampu
tersenyum kecil yang dalam benaknya sesungguhnya juga menginginkan hal itu.
Menginginkan untuk menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri tentang bagaimana
sebenarnya dunia yang orang bilang indah ini. Namun apa daya, hingga detik ini
belum ada yang memberinya bantuan dana untuk melakukan operasi. Mengingat untuk
melakukan operasi mata memerlukan biaya yang tak sedikit.
Maka dalam
menanggapi pertanyaan seperti itu, ia mengatakan bahwa sejauh ini dirinya
mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan untuknya. Dengan keyakinannya, ia
mengatakan bahwa keterbatasan itu bukanlah penghalang aktivitasnya karena ia
mampu bangkit. “Karena orang cacat itu bukan untuk dikasihani, tapi untuk diperhatikan..”
ungkapnya dengan senyum kecil yang hampir tak pernah lupa untuk ia sunggingkan.
Ia memang gadis yang murah senyum.
Sang
Inspirator. Rasanya tak berlebihan jika sebutan itu disematkan kepada
penyandang disabilitas bernama Novi ini. Kekuatan dan keyakinannya patut untuk
menjadi pelajaran tidak hanya bagi sesamanya namun juga untuk semuanya. Semua
orang yang mungkin pernah merasakan hal yang tidak mengenakkan dalam hidupnya.
Bahwa bersyukur adalah yang utama.
Wujud syukurnya
tidak hanya berhenti di situ. Keinginannya yang kuat untuk memperoleh
pendidikan setinggi-tingginya hingga cita-citanya untuk menjadi seorang guru
konseling di SLB tercapai. di buktikannya melalui proses belajarnya di jurusan
Bimbingan Konseling Islam (BKI). Hari-harinya dilakukan layaknya mahasiswa pada
umumnya. Beruntung ia masih mempunyai teman-teman yang tidak keberatan untuk
membantunya dalam proses pembelajaran di kelas. Baik saat dosen memberikan
keterangan-keterangan penting, saat ada tugas dan terlebih ketika ujian. Saat ujian
tiba, ia pun tetap mengikuti ujian dengan dibantu oleh temannya membacakan soal
yang ada. Demikian juga terhadap persiapannya. Belajar sebelum ujian juga
menjadi hal yang penting, hingga rasa syukur tetap mengalir ketika masih ada
temannya yang bersedia membantunya belajar untuk menghadapi soal-soal ujian.
Bahkan Supandi,
selaku wali studinya mengatakan bahwa Novi memiliki perhatian yang baik saat di
kelas, dan dengan kondisinya yang demikian dia termasuk murid yang memiliki
pemahaman yang baik dan juga semangat yang tinggi sehingga mengantarkan dirinya
pada pencapaian berupa nilai yang baik. Semangat belajarnya juga terlihat
dengan kehadirannya yang selalu tepat waktu dalam perkuliahan.
Padahal ketika
berangkat dan pulang kuliah pun juga sesuai jadwal yang ada. Ketika berangkat
kuliah, jika tidak ada yang dapat mengantar, maka ia tetap berusaha berjalan
menyusuri jalanan menuju kampus dengan tongkat khususnya. Tongkat yang berwarna
putih dan disertai reflektor warna merah itu memang didesain khusus bagi
penyandang tunanetra, agar ketika malam hari, orang lain yang melihat mampu
mengenalinya bahwa ia sedang berjalan. Namun jika ada yang berbaik hati untuk
mengantar dengan sebuah kendaraan, maka bebannya sedikit terkurangi dengan tiba
di kampus lebih cepat. Begitu juga jika
sudah waktunya untuk pulang.
Sesampainya di
kost, ia pun juga tetap melakukan aktivitas yang tak jauh berbeda dengan
teman-teman kostnya yang semuanya normal. Tinggal bersama anak-anak normal
tidak membuatnya menjadi pribadi yang banyak berharap belas kasih. Tidak
jarang, ia membeli makan sendiri untuk mengisi perutnya yang lapar. Seusai
makan, ia pun juga mencucinya sendiri. Bahkan ia juga sering mencuci baju
sendiri hingga menjemurnya sendiri. Tertabrak tembok atau tertabrak benda-benda
yang ada di hadapannya menjadi hal yang sangat wajar ketika awal-awal ia
menjadi anak kost di tempat itu. Namun, lama kelamaan, melalui proses menghafal
dengan menggunakan instingnya, ia bisa menjalani semua dengan ringan.
Novi gadis
tunanetra yang sehari-harinya berpenampilan sederhana itu juga bukannya tidak
pulang ke kampung halamannya sama sekali. Bahkan sesekali ia tetap merasa harus
pulang ke kota yang dilalui banyak sungai di tengah kota seperti Venesia di
Italia hingga Belanda menyebutnya Venetie
Van Java itu dengan mengendarai bus. Langkah kakinya yang mandiri
membuatnya berani melakukannya sendiri. Dengan keberaniannya bertanya pada
orang yang bisa ia tanya tentang arah bus menuju Semarang, ia mampu membuktikan
bahwa ia adalah gadis pemberani yang tangguh. Bahkan aku saja belum tentu
berani melakukannya sendiri.
Walaupun
saat-saat awal memulainya, rasa takut dan rasa kurang percaya diri pernah
mengiringi gadis yang menyukai makanan manis ini, namun dengan berjalannya
waktu serta keyakinannya yang kuat pada Tuhan, ia mampu menepis perasaannya itu
dan kekhawatiran orang-orang terdekatnya mengenai adanya kemungkinan
orang-orang jahat yang mungkin saja akan mengganggu perjalanannya. Dan hal itu
tidak membuatnya mengurungkan niat untuk tetap bolak-balik Semarang-Solo,
walaupun tidak dengan waktu yang berkala.
“Jangan jadikan
keterbatasan sebagai penghalang, kita sebenarnya mampu, hanya saja kita
memiliki cara berbeda dengan orang normal” demikian pesannya untuk teman-teman
dengan kondisi serupa dengannya. Selain
itu ia juga menyampaikan saran lainnya, bahwa jika menerima ejekan, maka terima
saja,dan jadikan itu sebagai pembangkit dan penyemangat bahwa AKU BISA.